Bahaya Rhabdomyolysis, Akibat Lari Ekstrem yang Dapat Membahayakan Jantung

Oleh Chodijah Febriani pada 05 Nov 2026, 20:22 WIB

Pelari - pexels/CRISTIAN CAMILO ESTRADA

JAKARTA, Cobisnis.com - Kasus kematian Rachel Apa, pelari maraton berusia 24 tahun yang pingsan hanya 3 km sebelum garis finis selama Maraton Kota New York pada (1/11/2026), telah menimbulkan kekhawatiran tentang risiko lari jarak jauh.

Dalam maraton pertamanya, Apa dilaporkan mengalami serangan jantung. Menurut ayahnya, dokter kemudian menyatakan kematiannya disebabkan oleh rhabdomyolysis, yaitu suatu kondisi yang melibatkan kerusakan otot parah. Insiden ini menimbulkan pertanyaan penting.

Dapatkah pengerahan fisik yang ekstrem menimbulkan risiko serupa bagi pelari yang sehat?

Menurut Konsultan Senior Ortopedi Spesialis Penggantian Sendi Minimal Invasif/Robotik dan Kedokteran Olahraga, Dr. Gazanfar Patel dari Rumah Sakit Wockhardt , Mumbai Central, menjelaskan bagaimana aktivitas ketahanan yang berkepanjangan dapat memicu rhabdomyolysis, mengapa hal itu dapat memengaruhi jantung, dan tanda-tanda peringatan apa yang tidak boleh diabaikan oleh pelari.

Rhabdomyolysis terjadi ketika serat otot rusak dan melepaskan isinya, termasuk protein yang disebut mioglobin, ke dalam aliran darah. Aktivitas fisik yang berkepanjangan dan intens, seperti lari maraton, dapat menyebabkan kerusakan otot yang berlebihan.

"Selama maraton, banyaknya aktivitas otot dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan otot yang berlebihan. Semakin besar pengerahan tenaga, semakin sedikit waktu pemulihan dan semakin besar kemungkinan hal itu terjadi," kata Dr. Patel dikutip dari laman Indianexpress, Kamis (5/11/2026).

Risiko meningkat ketika aktivitas fisik yang berlebihan, pemulihan yang tidak memadai, dehidrasi, dan berlari dalam kondisi panas atau lembap. Setelah masuk ke aliran darah, isi otot dapat merusak ginjal dan mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh.

Jadi, bisakah rhabdomyolysis menyebabkan henti jantung pada pelari muda yang sehat?

Dr. Patel mengatakan, saat sel otot rusak, sel-sel tersebut melepaskan kalium ke dalam darah.

"Peningkatan kadar kalium serum yang drastis dapat mengganggu aktivitas listrik jantung, menyebabkan aritmia berbahaya dan berpotensi menyebabkan serangan jantung," jelas Dr. Patel.

Cedera ginjal akut dapat memperburuk ketidakseimbangan elektrolit ini, sehingga meningkatkan risiko komplikasi.

Namun, dokter tersebut memperingatkan agar tidak selalu mengaitkan setiap serangan jantung saat maraton dengan rhabdomyolysis.

Penyebab lain yang mungkin termasuk kondisi jantung yang mendasarinya dan serangan panas. "Rhabdomyolysis tidak boleh diasumsikan sebagai penyebabnya tanpa konfirmasi dari tim medis," tambahnya.

Lebih lanjut, meskipun nyeri otot dan kelelahan adalah hal biasa setelah olahraga berat, gejala tertentu bisa mengindikasikan sesuatu yang lebih serius.

"Kamu sama sekali tidak boleh menganggapnya hanya sebagai kelelahan normal setelah lomba. Jika kamu mengalami nyeri otot yang parah, pembengkakan, urine berwarna gelap, atau kelemahan yang tidak dapat dijelaskan, Anda perlu berhenti berolahraga dan memeriksakan diri ke dokter," sambungnya.

Pencegahan rhabdomyolysis akibat aktivitas fisik berlebihan dimulai jauh sebelum hari perlombaan.

Dr. Patel merekomendasikan program pelatihan bertahap yang memungkinkan tubuh beradaptasi dengan peningkatan tuntutan fisik.

Dia menyampaikan beberapa tindakan pencegahan, yaitu:

1. Tingkatkan intensitas latihan secara bertahap

Hindari peningkatan jarak atau intensitas lari secara tiba-tiba. Persiapan maraton harus memberi otot waktu yang cukup untuk beradaptasi.

2. Prioritaskan pemulihan

Sertakan hari istirahat dalam jadwal latihan kamu. Pemulihan yang memadai sama pentingnya dengan latihan itu sendiri.

3. Pertahankan nutrisi yang cukup

Pastikan asupan karbohidrat yang cukup untuk mendukung kebutuhan energi latihan ketahanan.

4. Hidrasi dengan tepat

Sesuaikan asupan cairan sesuai dengan kehilangan keringat individu dan kondisi cuaca. Namun, hindari konsumsi air yang berlebihan.

5. Perhatikan cuaca

Dalam kondisi panas dan lembap, kurangi kecepatan Anda, hindari panas puncak sebisa mungkin, dan perhatikan tanda-tanda kepanasan.