JAKARTA, Cobisnis.com - Harga bawang putih terus mengalami kenaikan di berbagai daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan harga terjadi di 269 kabupaten dan kota atau sekitar 74,72 persen wilayah Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bawang putih menjadi komoditas pangan dengan penyebaran kenaikan harga paling luas. Secara nasional, rata-rata harganya kini mencapai Rp42.611 per kilogram, atau sudah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah.
Harga tertinggi tercatat di Papua Pegunungan yang mencapai Rp100.000 per kilogram. Sementara Aceh Selatan dan Gorontalo Utara mencatat harga Rp50.000 per kilogram, sedangkan Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, mencapai Rp79.000 per kilogram.
BPS menegaskan lonjakan harga bukan disebabkan penurunan impor. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, impor bawang putih justru meningkat menjadi 229,76 ribu ton atau naik 28,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Amalia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga. Selain itu, meningkatnya biaya logistik internasional turut membuat harga bawang putih impor semakin mahal.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Nawandaru mengatakan ongkos logistik melonjak setelah krisis di Selat Hormuz. Banyak negara berebut kapal berbendera China sehingga biaya pengiriman ke Indonesia ikut meningkat.
Pemerintah kini berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri agar kapal pembawa bawang putih dapat langsung bersandar di pelabuhan utama kawasan timur Indonesia. Langkah ini diharapkan memangkas biaya distribusi sekaligus membantu menekan harga bawang putih di berbagai daerah.