JAKARTA, Cobisnis.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan ekosistem jaringan stasiun bumi satelit penginderaan jauh nasional untuk mendukung pemantauan kebencanaan dan penyediaan data strategis. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan teknologi satelit dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, terutama saat menghadapi potensi maupun dampak bencana.
Pengembangan jaringan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Kolokium Pusat Riset Teknologi Satelit Series-8 bertajuk “Prospek dan Ekosistem Jaringan Stasiun Bumi Satelit Penginderaan Jauh di Indonesia”. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, itu membahas integrasi penerimaan data satelit serta peluang kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, perguruan tinggi, dan industri.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Hidayat Gunawan, menjelaskan bahwa jaringan stasiun bumi memiliki dua fungsi utama, yakni Direct Reception System (DRS) dan Virtual Reception System (VRS).
Melalui DRS, BRIN mengembangkan kemampuan menerima data satelit secara langsung dan waktu nyata untuk mendukung pemantauan bencana. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi titik panas atau hotspot sebagai indikator awal kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, citra penginderaan jauh juga dapat membantu memantau wilayah terdampak banjir dan erupsi gunung api.
Menurut Hidayat, jaringan stasiun bumi yang tersebar dapat memperluas cakupan pemantauan sekaligus mendukung ketersediaan informasi secara berkesinambungan bagi pihak berwenang.
Selain kebencanaan, data penginderaan jauh juga dibutuhkan dalam berbagai sektor, seperti kehutanan, pertanian, lingkungan hidup, tata ruang, dan kemaritiman. Penguatan infrastruktur ini diharapkan membuat Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan data nasional tanpa sepenuhnya bergantung pada penyedia luar negeri.
Sementara itu, fungsi VRS diarahkan untuk mengembangkan layanan Ground Station as a Service (GSaaS). Melalui model tersebut, pengguna dapat memanfaatkan fasilitas stasiun bumi tanpa harus membangun dan mengoperasikan seluruh infrastrukturnya sendiri.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Trihartjanto, menekankan pentingnya integrasi riset, infrastruktur, pengelolaan data, dan pemanfaatan teknologi satelit. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar inovasi keantariksaan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan penanganan bencana.