JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah China menyatakan kesiapan membantu Indonesia meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri. Kerja sama yang dibahas mencakup penyediaan benih, transfer teknologi, mekanisasi pertanian, hingga pembangunan klaster produksi.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Pertanian China Zhang Zhu di Beijing, Senin (2/11/2026). Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bawang putih impor.Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi dari pasokan China. Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah ingin memperkuat kapasitas produksi dalam negeri melalui kerja sama kedua negara.
Amran mengatakan hubungan pertanian Indonesia dan China perlu diarahkan untuk memperkuat produksi nasional, sekaligus memperluas perdagangan komoditas unggulan Indonesia. Pemerintah juga ingin memastikan pasokan komoditas yang masih dibutuhkan dari luar negeri tetap terjaga.
"Kita ingin kerja sama ini diperkuat. Untuk komoditas yang kita butuhkan, seperti bawang putih dan kedelai, kita harapkan pasokannya semakin baik. Di sisi lain, kita juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke China," kata Amran dalam keterangan resmi, Selasa (3/11/2026).
Untuk pengembangan bawang putih, Amran mengusulkan kerja sama dari hulu hingga hilir. Cakupannya meliputi penyediaan benih, teknologi budidaya, alat dan mesin pertanian, serta pembangunan klaster produksi di Indonesia.
"Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia," ujarnya.
Menteri Pertanian China Zhang Zhu menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. China siap memperdalam pembahasan mengenai teknologi produksi, teknik penanaman, dan aspek teknis budidaya yang dapat dikembangkan bersama.
"Kami sangat mendukung pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Kami siap memperdalam pembahasan, terutama terkait teknologi produksi, penanaman, dan aspek teknis lainnya yang dapat dikerjasamakan oleh kedua negara," kata Zhang.
Selain bawang putih, kedua negara membahas peluang pengembangan komoditas lain seperti kelapa, kopi, kakao, dan kelapa sawit. Zhang menyampaikan China akan mendorong pembentukan kelompok kerja untuk membahas potensi kerja sama pada komoditas tersebut.
Kerja sama juga diarahkan pada investasi industri pengolahan di Indonesia. Amran menawarkan peluang kepada perusahaan China untuk membangun fasilitas industri di kawasan khusus yang telah disiapkan pemerintah.
Sektor yang ditawarkan mencakup industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta industri vaksin untuk pertanian. Menurut Amran, pemerintah telah menyiapkan lahan, legalitas, dan dukungan insentif bagi calon investor.
"Lahannya sudah siap, legalitasnya juga disiapkan. Investor tinggal datang. Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar," jelas Amran.
Zhang merespons tawaran tersebut dengan menyatakan China siap mengorganisasikan delegasi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi di Indonesia. Kedua negara juga membahas transfer teknologi melalui mekanisasi, kecerdasan buatan atau AI, serta penggunaan teknologi modern di sektor pertanian.
Zhang turut menawarkan penguatan diskusi teknis dan penelitian bersama, termasuk pemanfaatan pesawat nirawak atau drone, robot pertanian, dan AI. Teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung produktivitas pertanian.
Dalam pertemuan itu, Amran juga mengusulkan peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Usulan tersebut berkaitan dengan kebutuhan susu Indonesia yang mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
Indonesia turut mendorong penelitian gandum sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih bergantung pada impor. Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama pertanian kedua negara.
Zhang menyebut nilai perdagangan ekspor dan impor China dengan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar atau setara Rp2.266,12 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp18.129 per dolar AS. Nilai tersebut setara sekitar 25 persen dari total perdagangan China dengan negara-negara Asia Tenggara.
Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama kelapa sawit dunia. Besarnya hubungan perdagangan kedua negara dinilai dapat menjadi dasar untuk memperluas kerja sama di sektor pertanian dan industri pengolahan.