JAKARTA, Cobisnis.com - Ketika sedang merasa stres dan lelah, tidur dan banyak bergerak adalah cara yang tepat untuk menjaga kesehatan agar tetap stabil. Tetapi, sebenarnya mana yang lebih berpengaruh untuk mengelola stres?
Sebenarnya tergantung dengan apa yang sedang dirasakan tubuh kamu sendiri. Tidur dan olahraga memang sama-sama membantu mengelola atau mengurangi hormon stres, sistem saraf dan otak.
Namun, baik tidur dan olahraga punya manfaat tersendiri tinggal bagaimana kamu sendiri yang memilih yang baik untuk kesehatan mental dan fisik.
Untuk mengetahui perbedaan yang baik antara olahraga dan tidur untuk membantu mengelola stres, bagaimana keduanya bekerja bersama, dan apa yang harus diprioritaskan ketika hanya dapat fokus pada salah satunya, berikut dilansir eating well, Selasa (04/08/2026), ini dia penjelasannya.
Manfaat tidur
Tidur diketahui dapat mengatur hormon stres. Kortisol, hormon stres utama tubuh mengikuti ritme harian alami, kadarnya paling rendah di malam hari dan paling tinggi di pagi hari.
Tidur diketahui dapat mengatur hormon stres. Kortisol, hormon stres utama tubuh mengikuti ritme harian alami, kadarnya paling rendah di malam hari dan paling tinggi di pagi hari.
Ketika kamu tidak cukup tidur, ritme tersebut dapat terganggu, dan kadar kortisol dapat tetap tinggi padahal seharusnya menurun, membuat kamu berada dalam kondisi stres ringan bahkan sebelum kamu memulai aktivitas.
Menurut sebuah studi pada 2022, kurang tidur dapat meningkatkan reaktivitas emosional dan melemahkan sirkuit prefrontal yang terlibat dalam pengaturan emosi dan pengendalian impuls, yang dapat membuat stres terasa lebih intens dan sulit dikelola..
"Kurang tidur semakin melemahkan kemampuan korteks prefrontal untuk mengendalikan reaktivitas emosional, memperkuat respons stres hingga 60 persen," jelas dokter bersertifikasi dan ahli tidur Alex Dimitriu, MD.
Jadi, ketika seseorang merasa stres dan frustasi dapat dikelola dengan istirahat. Tapi, jika terasa sangat berat setelah kurang tidur, bukan karena situasinya berubah, tetapi karena kapasitas pengaturan stres otak kamu yang berubah
"Kurang tidur enam hingga tujuh jam dapat secara signifikan meningkatkan angka kematian dan risiko penyakit," ungkap Dr. Dimitriu.
Manfaat olahraga
Stres memicu respons fisiologis, termasuk peningkatan detak jantung, peningkatan kadar kortisol dan adrenalin, serta ketegangan otot. Ketika semua energi yang tersimpan itu tidak memiliki tempat untuk dilepaskan, energi tersebut berputar melalui tubuh dan pikiran kamu dan berpotensi menyebabkan perasaan kewalahan.
Maka dari itu, olahraga teratur memberikan saluran fisik untuk melepaskan ketegangan yang menumpuk tersebut.
Cobalah untun lakukan aktivitas fisik ringan, seperti jalan kaki, peregangan, atau bersepeda, dapat membantu menurunkan hormon stres dan mendorong tubuh untuk kembali ke kondisi yang lebih tenang.
"Olahraga bertindak sebagai 'katup pelepas' untuk mengurangi kadar hormon stres dan menenangkan sistem saraf," jelas Dr. Dimitriu.
Olahraga telah terbukti meningkatkan produksi endorfin dan serotonin, adalah dua neurotransmiter yang mendukung pengaturan suasana hati dan mengurang gejala kecenasan dan depresi.
Berolahraga secara teratur juga merangsang produksi faktor neurotopik turunan otak (BDNF), yaitu protein yang mendukung pembentukan koneksi saraf baru dan terkait erat dengan respons stres yang lebih stabil.
Lantas, lebih baik tidur teratur atau rajin olahraga?
Jika kamu secara teratur kurang tidur, menambahkan olahraga intensif mungkin akan membuat kamu merasa lebih lelah, dan terlalu gelisah untuk tidur. Dalam hal ini, memprioritaskan kebiasaan tidur yang baik seperti waktu bangun yang konsisten, paparan cahaya pagi, mengurangi kafein di siang hari, dan rutinitas relaksasi di malam hari adalah langkah pertama yang lebih efektif.
"Tidur selalu menjadi faktor terpenting. Tidur adalah fondasi tempat segala sesuatu lainnya berdiri. Namun, jika kamu sebagian besar menjalani gaya hidup kurang aktif, fokus pada rutinitas olahraga. Bahkan jalan-jalan singkat di sekitar rumah dapat membantu menenangkan pikiran yang aktif dan mempermudah tidur lebih nyenyak," jelas Dr. Dimitriu.