JAKARTA, Cobisnis.com – Sovereign wealth fund Indonesia, Danantara, resmi gandeng perusahaan baterai dan daur ulang material asal Tiongkok, GEM, buat bangun kawasan industri pengolahan nikel hijau. Proyek ini ditaksir senilai US$8,3 miliar atau sekitar Rp120 triliun, dan bakal jadi langkah perdana Danantara masuk ke sektor nikel yang penting banget buat baterai kendaraan listrik.
Investment Chief Danantara, Pandu Sjahrir, bilang proyek ini bakal dibangun sebagai kawasan industri hijau dengan target net-zero carbon emission dan beroperasi secara berkelanjutan. Dalam kerja sama ini, GEM juga melibatkan PT Vale Indonesia, EcoPro asal Korea Selatan, dan Merdeka Copper Gold.
Danantara tahun ini ngelola dana investasi Rp135 triliun, dengan Rp70 triliun di antaranya berasal dari dividen BUMN. Sisanya didapat dari penerbitan Patriot Bonds ke perusahaan-perusahaan besar dalam negeri dan pinjaman sindikasi bank sebesar US$10 miliar.
Pandu bilang, Patriot Bonds ini juga disambut positif oleh sejumlah pengusaha besar seperti Prajogo Pangestu (Barito Pacific), Garibaldi Thohir (AlamTri Group), dan Franky Widjaja (Sinar Mas Group). Obligasi tersebut ditargetkan bisa kumpulin Rp50 triliun sampai Oktober 2025 dengan tenor 5–7 tahun dan bunga 2%, jauh lebih rendah dibanding obligasi pemerintah.
Selain proyek nikel, Danantara juga lagi pertimbangin investasi luar negeri, termasuk akomodasi haji di Arab Saudi dan sektor hulu migas di Amerika Serikat.
Investment Chief Danantara, Pandu Sjahrir, bilang proyek ini bakal dibangun sebagai kawasan industri hijau dengan target net-zero carbon emission dan beroperasi secara berkelanjutan. Dalam kerja sama ini, GEM juga melibatkan PT Vale Indonesia, EcoPro asal Korea Selatan, dan Merdeka Copper Gold.
Danantara tahun ini ngelola dana investasi Rp135 triliun, dengan Rp70 triliun di antaranya berasal dari dividen BUMN. Sisanya didapat dari penerbitan Patriot Bonds ke perusahaan-perusahaan besar dalam negeri dan pinjaman sindikasi bank sebesar US$10 miliar.
Pandu bilang, Patriot Bonds ini juga disambut positif oleh sejumlah pengusaha besar seperti Prajogo Pangestu (Barito Pacific), Garibaldi Thohir (AlamTri Group), dan Franky Widjaja (Sinar Mas Group). Obligasi tersebut ditargetkan bisa kumpulin Rp50 triliun sampai Oktober 2025 dengan tenor 5–7 tahun dan bunga 2%, jauh lebih rendah dibanding obligasi pemerintah.
Selain proyek nikel, Danantara juga lagi pertimbangin investasi luar negeri, termasuk akomodasi haji di Arab Saudi dan sektor hulu migas di Amerika Serikat.