Dokter Ingatkan Bahaya Gelombang Panas bagi Kesehatan

Oleh Desti Dwi Natasya pada 22 Oct 2026, 12:06 WIB

Dokter ITS mengingatkan risiko gelombang panas, mulai dari dehidrasi, gangguan tidur, kerusakan kulit, hingga kanker kulit.

JAKARTA, Cobisnis.com - Pakar kesehatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko gangguan kesehatan akibat gelombang panas atau heatwave. Kondisi ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari dehidrasi hingga kerusakan kulit dan gangguan kesehatan mental.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam ITS, dr Edwin Nugroho Njoto, mengatakan lonjakan suhu hingga 40 derajat Celsius berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi berat, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia) dan orang dengan penyakit bawaan, seperti penyakit jantung.

“Kelompok rentan ini sebaiknya menghindari paparan panas matahari terlalu lama,” ujarnya, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (22/10/2026).

Menurut Edwin, dampak gelombang panas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi mental seseorang.

Paparan suhu panas dan kelembapan tinggi dalam waktu lama berisiko mengganggu kualitas tidur serta memicu perubahan suasana hati. Kondisi tersebut terutama dapat dirasakan masyarakat yang tidak memiliki akses pendingin ruangan di rumah maupun tempat kerja.

“Lingkungan yang panas dan lembab bikin sulit tertidur dan menjadi mudah marah,” katanya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS, dr Desiana Widityaning Sari, mengatakan cuaca panas juga berisiko merusak skin barrier atau lapisan pelindung terluar kulit.

Kerusakan lapisan pelindung kulit dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan, seperti biang keringat, infeksi jamur, kulit terbakar akibat sinar matahari atau sunburn, serta jerawat yang kambuh.

“Penurunan kelembapan kulit membuat paparan bakteri dan virus menjadi jauh lebih mudah,” kata Desiana.

Ia juga mengingatkan bahwa paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang berpotensi memicu penuaan dini akibat paparan cahaya atau photoaging, hingga kanker kulit.

Meskipun pigmen melanin memberikan perlindungan alami pada kulit masyarakat Indonesia, risiko akibat paparan sinar matahari yang terakumulasi tetap perlu diwaspadai.

“Penggunaan tabir surya secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan sel kulit,” katanya.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama cuaca panas, Desiana menganjurkan masyarakat mengonsumsi air minimal 1,5 liter setiap hari dan menjaga kebersihan tubuh dengan mandi dua kali sehari.

Masyarakat juga disarankan segera mengganti pakaian yang lembap untuk membantu mencegah infeksi jamur.

Selain itu, kelompok rentan, terutama lansia dan penderita penyakit bawaan, perlu membatasi aktivitas di bawah terik matahari guna mengurangi risiko dehidrasi berat dan gangguan kesehatan lainnya.