Efek Perang AS-Iran Bisa Tembus ke RI, Logistik dan Harga Terancam Naik

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 02 Mar 2026, 14:35 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Dunia usaha nasional mulai waspada menyusul memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meluas di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini dinilai bisa memicu efek domino ke ekonomi Indonesia.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan kekhawatiran terhadap risiko lonjakan harga energi global. Indonesia sebagai negara net importir minyak dinilai cukup rentan terhadap gejolak ini.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menilai potensi penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Jalur tersebut merupakan salah satu bottleneck energi dunia dengan sekitar 20% minyak global melintas di sana.

Menurutnya, bahkan tanpa penutupan fisik, ketidakpastian saja sudah cukup mendorong kenaikan risk premium harga minyak dan gas. Dampaknya akan terasa pada biaya logistik internasional.

Kenaikan harga energi otomatis menekan biaya produksi dan distribusi di dalam negeri. Sektor usaha yang bergantung pada energi dan bahan baku impor akan merasakan dampak paling cepat.

Tekanan ini juga berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah jika harga minyak global melampaui asumsi dalam APBN. Kondisi tersebut bisa menambah beban subsidi dan memperlebar defisit.

Apindo menekankan pentingnya pengelolaan utang yang disiplin serta menjaga rasio defisit tetap kredibel. Kepercayaan pasar, menurut Shinta, sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan fiskal dan moneter.

Selain energi, dunia usaha juga mencermati risiko inflasi pangan. Kenaikan harga energi biasanya berimbas pada biaya transportasi dan distribusi bahan pokok.

Jika dibarengi pelemahan rupiah atau gangguan pasokan global, tekanan harga pangan bisa semakin cepat. Stabilitas pasokan dan distribusi menjadi faktor krusial untuk menjaga daya beli masyarakat.

Dari sisi eksternal, sentimen risk-off global dapat memicu volatilitas nilai tukar. Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor energi dan pangan sehingga koordinasi kebijakan perlu diperkuat.

Sektor padat karya disebut paling rentan karena memiliki margin tipis dan sangat sensitif terhadap kenaikan biaya produksi. Gangguan permintaan ekspor juga bisa memperberat tekanan.

Meski hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, dampak tidak langsung melalui harga energi, inflasi, nilai tukar, dan sentimen pasar jauh lebih signifikan.

Dalam jangka pendek, pelaku usaha mengambil langkah mitigasi seperti efisiensi operasional, diversifikasi pasokan, pengelolaan eksposur valas, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai.

Apindo mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur serta memperkuat cadangan logistik strategis. Stabilitas politik dan kredibilitas diplomasi dinilai penting agar Indonesia tidak terseret lebih jauh dalam pusaran konflik.