JAKARTA, Cobisnis.com – Asia Tenggara menghadapi potensi tekanan ekonomi baru akibat kemungkinan munculnya El Nino dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena iklim ini dapat mengganggu pola cuaca, menekan hasil pertanian, dan meningkatkan biaya hidup masyarakat.
Lembaga meteorologi internasional memperkirakan El Nino mulai berkembang sebelum Agustus 2026. Setelah itu, kondisi tersebut dapat bertahan hingga sekitar November.
El Nino biasanya meningkatkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Selain itu, perubahan pola angin dapat mengubah distribusi curah hujan di sejumlah wilayah.
Perubahan musim hujan mulai menjadi perhatian sektor pertanian. Karena itu, petani kemungkinan menyesuaikan jadwal tanam atau memilih tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.
Komoditas utama seperti beras dan minyak kelapa sawit menjadi sektor yang paling rentan. Penurunan produksi dapat mengurangi pasokan dan mendorong kenaikan harga pangan.
Sementara itu, biaya energi dan harga pupuk juga menambah tekanan ekonomi. Kondisi tersebut membuat risiko inflasi tetap tinggi di beberapa negara.
Pelaku usaha menghadapi tantangan tambahan karena biaya operasional meningkat. Di sisi lain, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung sektor produktif.
Dampak El Nino tidak hanya menyentuh sektor pangan. Selain itu, cuaca ekstrem dapat mengganggu aktivitas pariwisata dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Kabut asap lintas wilayah juga berpotensi muncul jika kondisi kering berlangsung lebih lama. Meski begitu, setiap negara memiliki tingkat kesiapan yang berbeda dalam menghadapi dampaknya.
Secara keseluruhan, kombinasi tekanan iklim dan ekonomi global menjadi tantangan penting bagi Asia Tenggara sepanjang 2026.