JAKARTA, Cobisnis.com — Masa depan FIFA ASEAN Cup menjadi tanda tanya apabila Gianni Infantino tidak lagi menjabat sebagai Presiden FIFA. Turnamen yang baru pertama kali digelar pada 2026 itu berpotensi kehilangan keberlanjutan jika tidak mendapat dukungan dari kepemimpinan FIFA berikutnya.
FIFA ASEAN Cup 2026 berlangsung pada 25 September hingga 5 Oktober 2026. Indonesia menjadi tuan rumah Premier Division, sedangkan Hong Kong menggelar Challenge Division.
Indonesia berhasil merebut gelar juara Premier Division setelah menundukkan Thailand melalui adu penalti. Sementara itu, Hong Kong keluar sebagai juara Challenge Division usai mengalahkan Kamboja dengan skor 2-0.
Namun, keberlangsungan turnamen ini mulai dipertanyakan di tengah sorotan terhadap kepemimpinan Infantino. Salah satu isu yang mencuat adalah rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta pada Agustus 2026.
Gagasan tersebut menuai penolakan dari sejumlah anggota FIFA, terutama UEFA. Di sisi lain, beberapa negara memberikan dukungan, termasuk Indonesia melalui Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Menjelang Kongres Luar Biasa FIFA untuk pemilihan presiden baru, Infantino melakukan kunjungan ke sejumlah negara. Ia mendatangi Makau untuk meresmikan kantor baru, mengunjungi Uzbekistan guna membuka FIFA Arena Mini-pitch, serta menghadiri final FIFA ASEAN Cup 2026.
Kunjungan Infantino ke Hong Kong diwarnai sorakan 'FIFA Mafia'. Akan tetapi, suasana berbeda terlihat ketika ia tiba di Indonesia sekitar 48 jam kemudian. Infantino mendapat sambutan hangat dan bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
Di balik penyelenggaraan turnamen tersebut, FIFA menghadapi tantangan dalam menarik minat pasar. Penjualan hak siar FIFA ASEAN Cup 2026 dilaporkan kurang diminati. Bahkan, tidak ada stasiun televisi Thailand yang membeli hak siarnya sehingga suporter Thailand menyaksikan pertandingan melalui kanal FIFA.
Media Inggris, The Guardian, turut mempertanyakan masa depan kompetisi tersebut, termasuk kemungkinan nasibnya jika Infantino kehilangan jabatan.
"Apakah itu berarti Indonesia adalah juara Asia Tenggara mengingat kesuksesan Vietnam pada musim panas ini? Mungkin bergantung pada siapa yang Anda tanya. Bagi sebagian besar orang di luar Indonesia, hal itu bisa saja dilupakan dengan cukup cepat," kata Guardian dalam tulisannya.
"Infantino, yang mungkin senang melihat pernyataannya dari 12 bulan lalu terwujud di lapangan, kemungkinan besar akan menilai kesuksesan sebenarnya dari semua itu berdasarkan apakah ia telah meningkatkan peluangnya untuk mempertahankan jabatannya. Hal itu masih harus dibuktikan."
"Jika demikian, kita mungkin akan melihat kembali Infantino dan Piala AFF di Asia Tenggara. Jika tidak, turnamen tersebut kemungkinan akan bernasib sama seperti penciptanya," kata dia menambahkan.
Sementara itu, FIFA belum memberikan kepastian mengenai frekuensi penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup. Dalam penjelasan sebelumnya, pihak FIFA menyatakan masih memusatkan perhatian pada keberhasilan edisi perdana sebelum membahas kelanjutan kompetisi tersebut.
Dengan demikian, masa depan FIFA ASEAN Cup masih bergantung pada keputusan FIFA berikutnya. Pergantian kepemimpinan dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah turnamen ini akan berlanjut atau justru berhenti setelah edisi pertamanya.