Gita Wirjawan Bahas Brain Rot akibat Kecanduan Medsos

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 11 Oct 2026, 12:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Gita Wirjawan membahas pemikiran filsuf Yunani Plato tentang bagaimana sebuah negara bisa mengalami kehancuran dari dalam sebelum akhirnya dikalahkan oleh kekuatan luar. Pelajaran tersebut muncul dalam diskusi bersama Romo Setio Wibowo yang menyoroti sejarah Athena, pendidikan, hingga tantangan masyarakat di era digital.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Gita Wirjawan, mereka mengulas bagaimana Plato berusaha menawarkan gagasan tentang politik dan negara melalui pemikiran filsafatnya. Namun, gagasan tersebut tidak sepenuhnya didengarkan oleh masyarakat Athena pada masanya.

Romo Setio Wibowo menjelaskan bahwa kehancuran Athena tidak hanya berkaitan dengan serangan dari luar, tetapi juga kondisi internal yang semakin rapuh. Ia menggambarkan bagaimana pengaruh kaum Sofis turut mengurai fondasi masyarakat Athena secara perlahan.

“Athena akhirnya ya hancur karena kaum Sofis itu membuat pelan-pelan kayak Athena itu terurai dari dalam,” dikutip dari kanal YouTube Gita Wirjawan, Minggu (11/10/2026).

Menurut Setio, serangan Filipus, ayah Alexander Agung, datang ketika kondisi Athena sudah melemah. Situasi tersebut menjadi gambaran bahwa ancaman dari luar dapat semakin mudah menghancurkan suatu negara ketika fondasi internalnya telah rapuh.

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter dan cara berpikir masyarakat. Mengacu pada pemikiran Plato, Setio menjelaskan bahwa pendidikan sejak usia dini berperan dalam mengarahkan hasrat, kebiasaan, dan nilai yang membentuk perilaku seseorang.

Ia menilai keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Karena itu, kualitas guru dan ketersediaan bahan bacaan menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir masyarakat.

Pembahasan kemudian mengarah pada tantangan era digital, terutama fenomena brain rot atau pembusukan otak yang dikaitkan dengan konsumsi konten digital secara berlebihan. Setio menjelaskan bahwa kebiasaan terus mencari rangsangan dari ponsel dapat membuat seseorang sulit berhenti mengonsumsi konten dan mengurangi waktu untuk mempelajari keterampilan baru.

Ia juga menyoroti risiko ketika masyarakat menerima informasi di media sosial tanpa memeriksa kebenarannya. Dalam diskusi tersebut, kemampuan berpikir kritis dinilai semakin penting karena video dan informasi digital dapat dimanipulasi, termasuk menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Selain itu, algoritma platform digital turut dibahas karena dapat memperkuat polarisasi dan memperluas penyebaran misinformasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat yang membutuhkan kemampuan untuk membedakan fakta, opini, dan informasi yang sengaja dibentuk untuk memengaruhi persepsi.

Diskusi ini menempatkan pendidikan, literasi, dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas masyarakat. Pelajaran dari Athena menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh pertahanan dari luar, tetapi juga oleh kualitas pemikiran, karakter, dan fondasi sosial di dalamnya.