Gunung Anak Krakatau Erupsi, Picu Megathrust?

Oleh Desti Dwi Natasya pada 07 Sep 2026, 14:45 WIB

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan berstatus Level III Siaga. Pakar menjelaskan apakah aktivitas vulkanik dapat memicu gempa megathrust Selat Sunda.

JAKARTA, Cobisnis.com - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami aktivitas erupsi di Selat Sunda yang sempat memunculkan kekhawatiran mengenai potensi gempa megathrust di wilayah tersebut.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung sekitar 25 jam.

Aktivitas kemudian kembali berupa erupsi strombolian yang menjadi karakteristik Gunung Anak Krakatau saat ini, dengan pemantauan visual dan instrumental tetap dilakukan secara intensif.

Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan bahwa gempa tektonik dipicu pergeseran atau patahan batuan akibat pergerakan lempeng, sedangkan gempa vulkanik berkaitan dengan pergerakan magma atau pelepasan gas di dalam tubuh gunung api.

"Mengenai hubungan keduanya, gempa vulkanik pada dasarnya tidak memiliki energi yang cukup besar untuk memicu terjadinya gempa tektonik karena cakupan tekanannya hanya bersifat lokal," katanya, dikutip dari berbagai sumber, Senin (07/09/2026).

Menurut Daryono, hubungan keduanya justru lebih memungkinkan berlangsung dari gempa tektonik menuju aktivitas vulkanik ketika gunung api berada dalam kondisi aktif dan kantong magmanya terisi penuh.

"Sebaliknya, gempa tektonik berskala besar sangat memungkinkan untuk memicu erupsi gunung api. Dengan syarat utama gunung tersebut memang sudah berada dalam status aktif dan kantong magmanya terisi penuh, sehingga guncangan yang terjadi dapat membongkar sumbatan magma atau memicu pelepasan gas," tambah Daryono.

Gunung Anak Krakatau sendiri berada di Selat Sunda, kawasan yang berdekatan dengan zona pertransisian antara Subduksi Sumatra dan Megathrust Jawa.

"Posisi Gunung Anak Krakatau memang berada di dalam zona rentan yang terpengaruh oleh tatanan tektonik regional tersebut. Oleh karena itu, jika terjadi guncangan hebat dari gempa tektonik di zona megathrust Selat Sunda, peristiwa tersebut berpotensi menjadi pemicu bergeraknya magma dan mempercepat erupsi Gunung Anak Krakatau apabila gunung tersebut sedang aktif," papar Daryono.

Namun, kondisi tersebut tidak berlaku sebaliknya karena aktivitas vulkanik Anak Krakatau tidak memiliki kemampuan untuk memicu gempa tektonik utama di zona megathrust.

"Namun, hubungan pemicu ini bekerja satu arah. Sehingga, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak akan mampu memicu runtuhnya atau terjadinya gempa tektonik utama di Zona Megathrust Selat Sunda," tegas Daryono.

Berdasarkan pemantauan PVMBG pada 6-7 September 2026, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam setinggi maksimum 300 meter di atas puncak.

Secara instrumental tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta aktivitas kegempaan vulkanik lainnya.

Energi aktivitas vulkanik berdasarkan nilai RSAM sempat meningkat pada 5 September 2026 sebelum kembali menurun pada 6 September 2026, sementara data deformasi belum menunjukkan perubahan signifikan yang mengindikasikan peningkatan tekanan secara cepat.

"Berakhirnya erupsi menerus dan kembalinya pola erupsi strombolian untuk sementara diinterpretasikan sebagai berakhirnya satu episode erupsi menerus. Namun, dinamika aktivitas vulkanik masih tinggi dan kemungkinan terjadinya erupsi kembali dalam waktu dekat masih tetap ada," tegas PVMBG.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, serta aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.

"Masyarakat, wisatawan, dan pelaku pelayaran tidak diperbolehkan memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas."

PVMBG juga mengimbau masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap tenang karena aktivitas erupsi saat ini tidak memicu tsunami.

Daryono turut menjelaskan bahwa erupsi beberapa gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak berarti memiliki hubungan langsung satu sama lain.

"Hal ini dikarenakan Indonesia berada di kawasan system subduksi lempeng yang aktif dengan puluhan gunung api aktif yang berada dalam status Siaga atau Waspada," jelasnya.

"Ketika beberapa gunung api kebetulan telah mencapai ambang batas kejenuhan gas dan magma pada periode waktu yang hampir bersamaan, mereka akan erupsi masing-masing tanpa perlu saling picu secara langsung," tambahnya.

Secara geologi, setiap gunung api memiliki kantong magma, jalur conduit, serta sistem tekanan yang berbeda dan terpisah di dalam kerak bumi.

"Peningkatan aktivitas yang terjadi dalam waktu bersamaan merupakan kebetulan statistik dari dinamika lokal di setiap gunung api. Seperti akumulasi tekanan gas internal atau kristalisasi magma di sistem masing-masing, sehingga peristiwa erupsi di satu gunung tidak mengalirkan tekanan atau menyulut letusan di gunung api lainnya," ucap Daryono.