JAKARTA, Cobisnis.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memastikan air hujan hasil Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC tidak berbahaya bagi masyarakat. Penjelasan ini disampaikan setelah muncul perhatian terhadap kondisi air hujan yang terlihat kotor di sejumlah wilayah.
BMKG menjelaskan bahan yang digunakan dalam modifikasi cuaca antara lain garam dapur atau NaCl dan KCl dengan kualitas food grade. Bahan tersebut bersifat non toksik dan digunakan dalam dosis yang sangat kecil.
BMKG juga menyebut telah melakukan uji laboratorium terhadap air hujan hasil modifikasi cuaca. Hasil pengujian menunjukkan air hujan tersebut bersifat netral hingga basa dan tidak berbahaya.
Kondisi air hujan yang terlihat kotor pada awal hujan juga dijelaskan BMKG. Air hujan dapat membawa berbagai partikel yang sebelumnya berada di atmosfer ketika tetesan air turun ke permukaan bumi.
Partikel tersebut antara lain debu, polusi kendaraan, hingga asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Karena itu, air hujan pertama dapat terlihat lebih keruh atau kotor dibandingkan hujan setelahnya.
BMKG menegaskan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh bahan pembenih awan yang digunakan dalam modifikasi cuaca. Fenomena serupa juga dapat terjadi pada hujan alami ketika kondisi atmosfer sedang tercemar.
Operasi Modifikasi Cuaca sendiri dilakukan untuk memengaruhi proses pembentukan hujan sesuai kebutuhan di suatu wilayah. Dalam data BMKG, kegiatan OMC pada September 2026 dilakukan untuk sejumlah tujuan, mulai dari penanganan karhutla, pengisian waduk, hingga penanganan polusi udara.
BMKG sebelumnya juga menjelaskan bahwa bahan seperti natrium klorida atau NaCl digunakan untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan. Bahan yang digunakan dalam OMC telah melalui kajian dan penggunaannya disesuaikan dengan metode penyemaian.
Dengan demikian, warna atau kondisi air hujan pada awal turunnya hujan tidak bisa langsung dijadikan tanda bahwa air tersebut mengandung bahan berbahaya dari proses modifikasi cuaca. BMKG menyebut kondisi atmosfer menjadi salah satu faktor yang membuat air hujan pertama terlihat kotor.
Penjelasan ini sekaligus menjadi konteks bagi masyarakat yang melihat perubahan kondisi air hujan setelah pelaksanaan modifikasi cuaca. BMKG memastikan berdasarkan hasil uji laboratorium, air hujan hasil modifikasi cuaca yang diuji berada dalam kondisi netral hingga basa dan tidak berbahaya.