Indonesia Dilirik Jadi Pabrik AI Dunia, Investasi Capai Rp800 Triliun

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 06 Sep 2026, 16:28 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Indonesia mulai mendapat perhatian dalam perkembangan industri kecerdasan buatan atau AI global. Salah satu yang menjadi sorotan adalah rencana investasi AI factory dengan nilai lebih dari US$50 miliar atau sekitar Rp800 triliun di Batang, Jawa Tengah.

"Gila, akhirnya dia bisa dibanggain dari Indonesia. Kalian percaya enggak kalau gua bilang Indonesia bakal jadi pabriknya AI dunia?" kata Raymond Chin, dikutip dari kanal YouTube Raymond Chin, Minggu (6/9/2026).

Proyek tersebut disebut digarap melalui kolaborasi Indosat, Orindo, Nokia, dan Nvidia. Fasilitas ini direncanakan menggunakan kapasitas listrik hingga 1 gigawatt atau GW untuk mendukung kebutuhan komputasi dalam skala besar.

Besarnya kebutuhan listrik menjadi salah satu gambaran mengenai skala proyek tersebut. Kapasitas 1 GW disebut mendekati kebutuhan listrik puncak Bali yang berada di kisaran 1,3 hingga 1,4 GW.

Kebutuhan energi menjadi persoalan penting karena pusat data dan fasilitas AI tidak hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar, tetapi juga pasokan yang stabil selama 24 jam. Infrastruktur jaringan, transmisi, serta sistem cadangan menjadi bagian penting agar operasional fasilitas tidak terganggu.

Indonesia dinilai memiliki sejumlah faktor yang menarik bagi industri tersebut. Selain lahan yang relatif tersedia dan pasar domestik yang besar, ekspansi pusat data di negara seperti Singapura dan Johor, Malaysia, disebut mulai menghadapi keterbatasan.

Namun, Indonesia juga masih memiliki pekerjaan rumah dari sisi infrastruktur. Pengembangan AI factory membutuhkan kesiapan pembangkit dan jaringan listrik yang lebih kuat, sehingga dukungan pemerintah dan PLN menjadi faktor penting dalam merealisasikan investasi tersebut.

Dari sisi bisnis, proyek ini juga memperlihatkan kuatnya keterlibatan perusahaan global dalam industri AI Indonesia. Struktur kepemilikan yang disebutkan terdiri dari 49% untuk Orindo dan 51% lainnya dibagi antara Indosat, Nvidia, serta Nokia.

Kondisi tersebut membuat manfaat investasi tidak hanya perlu dilihat dari besarnya dana yang masuk. Indonesia juga perlu memastikan adanya nilai tambah berupa lapangan kerja, peningkatan kemampuan tenaga lokal, transfer pengetahuan, serta pengembangan teknologi di dalam negeri.

Menurut Raymond, proyek tersebut tetap dapat memberikan manfaat besar meski sebagian keuntungan bisnis nantinya mengalir kepada investor. Indonesia memiliki peluang memperoleh dampak ekonomi melalui pembangunan infrastruktur, aktivitas operasional, serta tumbuhnya kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keahlian khusus.

Kebutuhan tenaga kerja diperkirakan muncul dari berbagai bidang, mulai dari konstruksi, kelistrikan, jaringan, teknologi chip hingga AI. Pemerintah bersama Nvidia juga disebut tengah menyiapkan program untuk melatih dan merekrut 15.000 insinyur Indonesia agar dapat masuk ke industri tersebut.

Pertumbuhan infrastruktur AI juga berpotensi mendorong penggunaan teknologi tersebut di masyarakat. Semakin besar kapasitas yang tersedia, semakin terbuka peluang bagi layanan AI untuk berkembang dan menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat Indonesia.

Namun, tantangan terbesar berada setelah fasilitas tersebut mulai beroperasi. Indonesia perlu memastikan tenaga lokal tidak hanya bekerja dalam pekerjaan pendukung, tetapi juga memiliki kesempatan masuk ke bidang engineering, riset dan pengembangan, serta pengembangan produk AI.

Raymond menilai aspek transfer pengetahuan menjadi salah satu hal yang masih perlu diperhatikan. Menurutnya, penting untuk melihat berapa banyak talenta Indonesia yang nantinya terlibat dalam riset dan pengembangan serta produk AI apa yang dapat lahir dari ekosistem tersebut.

Investasi tersebut pada akhirnya menjadi peluang sekaligus ujian bagi Indonesia. Besarnya modal yang masuk dapat menjadi pintu menuju industri AI global, tetapi manfaat jangka panjangnya akan bergantung pada kemampuan Indonesia mengembangkan infrastruktur, talenta, kepemilikan lokal, dan kapasitas teknologi sendiri.