JAKARTA, Cobisnis.com - Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat produksi dan distribusi protein di Asia Tenggara. Besarnya pasar domestik, kekayaan sumber protein, serta akses ke pasar regional menjadi modal utama untuk memperkuat daya saing industri nasional.
Potensi tersebut didukung oleh pasar ASEAN yang mencapai sekitar 745 juta penduduk. Kondisi ini membuka peluang Indonesia tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pemasok protein di kawasan.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menilai pengembangan industri protein harus dibarengi dengan pembukaan peluang investasi yang lebih luas. Langkah itu dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat modernisasi sektor peternakan.
Menurutnya, investasi akan mendorong adopsi teknologi yang lebih maju. Efisiensi produksi juga dapat meningkat sehingga industri protein nasional mampu memenuhi permintaan yang terus bertambah.
Panggah menilai perkembangan industri ayam di Indonesia menjadi contoh keberhasilan kolaborasi investasi dan teknologi. Model tersebut dinilai berhasil meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kemitraan dengan peternak rakyat.
Melalui pola kemitraan, peternak dapat memperoleh akses terhadap bibit unggul, teknologi, pembiayaan, hingga kepastian pasar. Di sisi lain, perusahaan besar berperan sebagai penggerak pertumbuhan industri.
Konsep serupa dinilai bisa diterapkan pada subsektor protein lainnya, mulai dari peternakan sapi, kambing, hingga sektor perikanan. Pengembangannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik masing masing komoditas dan daerah.
Kerja sama dengan perusahaan protein global juga dianggap mampu mempercepat transfer teknologi dan memperluas akses pasar internasional. Salah satu skema yang dinilai potensial adalah pembentukan perusahaan patungan atau joint venture.
Selain menjadi tujuan investasi, Indonesia diharapkan memiliki kepemilikan saham dan posisi strategis dalam perusahaan bersama tersebut. Dengan begitu, manfaat ekonomi dan pengambilan keputusan tetap melibatkan kepentingan nasional.
Kajian Prasasti Center for Policy Studies juga menilai Indonesia membutuhkan ekosistem industri protein yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan rantai pasok yang lebih kuat dan investasi yang tepat sasaran, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama industri protein di Asia Tenggara.