JAKARTA, Cobisnis.com - Iran tengah menyiapkan sejumlah syarat baru untuk membuka kembali Selat Hormuz. Syarat tersebut berkaitan dengan tuntutan Iran kepada Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik dan mencabut sejumlah kebijakan terhadap Teheran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan para mediator telah meminta Teheran menetapkan persyaratan pembukaan Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan setelah Qatar, Pakistan, dan Oman melakukan pembicaraan dengan Iran.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut pembicaraan tersebut membahas kemungkinan pembentukan koridor sementara di Selat Hormuz. Pembahasan juga mencakup proyek bersama untuk membersihkan ranjau di jalur perairan tersebut.
Rezaei mengatakan Iran dan Oman telah menyepakati pembentukan sebuah koridor yang sebagian melewati perairan Oman dan sebagian lainnya berada di perairan Iran. Kapal dapat menggunakan jalur tersebut jika Amerika Serikat memenuhi tuntutan yang diajukan Teheran.
Menurut Rezaei, Amerika Serikat harus mengambil langkah praktis terlebih dahulu sebelum Iran membuka kembali Selat Hormuz. Ia menegaskan pembukaan jalur tersebut akan dilakukan setelah syarat Iran dipenuhi.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC sebelumnya juga menyatakan posisi serupa pada Rabu, 26 Agustus 2026. Iran disebut tidak akan membuka Selat Hormuz selama Washington belum mencabut blokadenya.
Selain pencabutan blokade, Iran juga menuntut Amerika Serikat membayar ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang. Teheran juga meminta seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut.
Selat Hormuz disebut secara efektif ditutup Iran setelah perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari 2026. Jalur tersebut sempat dibuka setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman damai pada Juni.
Dalam periode tersebut, Amerika Serikat disebut mencabut blokade dan melonggarkan sanksi terhadap Iran. Namun, Iran kemudian kembali menutup Selat Hormuz setelah menuduh Washington melanggar kesepakatan yang telah dibuat.
Kondisi ini membuat pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat. Jalur tersebut memiliki posisi penting dalam perdagangan dan pelayaran internasional, sehingga setiap gangguan berpotensi berdampak lebih luas.