JAKARTA, Cobisnis.com – Iran dan Amerika Serikat menyampaikan klaim yang saling bertentangan terkait Selat Hormuz menjelang perundingan penting di Swiss.
Teheran menyatakan telah menutup jalur pelayaran strategis tersebut. Iran mengambil langkah itu sebagai respons atas serangan terbaru Israel di Lebanon.
Namun, militer AS membantah klaim tersebut. Washington menegaskan Iran tidak menguasai selat yang menjadi salah satu jalur energi terpenting dunia.
Presiden Donald Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Ia mengancam akan memberlakukan tarif atau biaya pelayaran di Selat Hormuz jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance sedang menuju Swiss untuk memulai pembicaraan dengan Iran. Menurut Vance, pertemuan itu bertujuan menyusun kerangka negosiasi dan membuka jalan bagi pembahasan isu nuklir.
Di sisi lain, delegasi Iran telah lebih dulu tiba di Swiss. Teheran menegaskan pembicaraan tidak akan berkembang tanpa membahas situasi di Lebanon.
Ketegangan juga terus berlangsung di lapangan. Meski gencatan senjata sempat diumumkan, Israel dan Hezbollah masih saling melancarkan serangan.
Dalam dua hari terakhir, serangan Israel di Lebanon menewaskan puluhan orang. Karena itu, konflik tersebut menjadi salah satu periode paling mematikan dalam eskalasi terbaru di kawasan.
Para pengamat menilai hasil perundingan di Swiss dapat memengaruhi stabilitas Timur Tengah. Selain itu, keputusan terkait Selat Hormuz berpotensi berdampak langsung pada perdagangan dan pasokan energi global.