Iran Siap Berdialog jika Ada Jaminan Keamanan, Tak Ada Serangan Terulang

Oleh Chodijah Febriani pada 19 Oct 2026, 00:30 WIB

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi

JAKARTA, Cobisnis.com - Selama proses diplomasi, Iran menyatakan tetap membuka peluang untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat, tetapi menuntut jaminan yang dapat dipercaya bahwa serangan militer tidak akan kembali terjadi.

Dikatakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Sabtu, bahwa Teheran hanya bersedia kembali ke meja perundingan apabila terdapat jaminan yang kredibel dan proses dialog dilaksanakan berdasarkan prinsip saling menghormati, menurut laporan kantor berita pemerintah IRNA.

"Iran tidak menerima pemaksaan, ancaman, maupun intimidasi dan tidak akan melepaskan hak-hak kedaulatannya di bawah tekanan. Namun, Iran tetap siap berdialog berdasarkan prinsip saling menghormati dan jaminan yang dapat dipercaya," kata Araghchi dalam Sidang ke-52 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Baghdad, dikutip dari anadolu, Minggu (18/10/2026).

Araghchi mengatakan Iran telah melakukan perundingan dengan iktikad baik selama dua tahun terakhir, tetapi mengklaim upaya diplomatik tersebut berulang kali diikuti serangan militer.

Menurut dia, kondisi tersebut menimbulkan ketidakpercayaan mendalam terhadap kemungkinan dimulainya kembali perundingan tanpa adanya jaminan bahwa serangan serupa tidak akan terulang.

Meski demikian, Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap membuka pintu bagi penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Dia merujuk pada proposal tujuh hari yang sebelumnya disampaikan melalui Qatar, yang menurutnya memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka dan lalu lintas pelayaran normal dipulihkan apabila persyaratan yang diperlukan terpenuhi.

Araghchi juga menyinggung kesepahaman antara Iran dan AS yang dicapai di Islamabad pada 17 Juni melalui mediasi Pakistan dengan dukungan Qatar.

Menurut dia, lalu lintas pelayaran sempat pulih hingga sekitar 60 persen dari tingkat sebelum perang dalam waktu dua pekan, sebelum pelaksanaan kesepahaman tersebut terhenti.

Terkait konflik di Yaman, Araghchi mengatakan bahwa perang tersebut tidak memiliki penyelesaian militer dan harus diakhiri melalui proses politik yang inklusif serta perundingan.

Dia menambahkan bahwa Iran siap membantu memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang bertikai berdasarkan peta jalan perdamaian yang sebelumnya telah disepakati.

Araghchi juga kembali menegaskan posisi Teheran mengenai Palestina dan menyerukan langkah terkoordinasi dari negara-negara anggota OKI untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina.

Pertemuan dua hari para menteri luar negeri OKI dibuka di Baghdad pada Sabtu, dengan menghadirkan perwakilan negara-negara anggota untuk membahas berbagai krisis regional, persoalan Palestina, perdamaian, pembangunan, dan kerja sama.

Dalam pertemuan tersebut, Irak mengambil alih kepemimpinan bergilir OKI dari Turkiye.