JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Iran dilaporkan menawarkan pembukaan kembali akses Selat Hormuz kepada Amerika Serikat. Namun, langkah itu disertai syarat agar Washington terlebih dahulu mengakhiri blokade terhadap Iran.
Informasi tersebut disampaikan dua pejabat regional yang mengetahui isi proposal Iran. Keduanya berbicara secara anonim karena pembahasan masih bersifat sensitif dan belum diumumkan resmi.
Proposal itu disebut diteruskan kepada Amerika Serikat melalui Pakistan. Jalur komunikasi ini menunjukkan masih adanya upaya diplomasi tidak langsung di tengah hubungan yang tegang.
Iran disebut tidak memasukkan pembahasan program nuklir dalam usulan terbaru tersebut. Fokus utama proposal hanya menyangkut pembukaan jalur strategis Selat Hormuz dan pencabutan tekanan ekonomi.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Gangguan di wilayah ini kerap memicu kenaikan harga energi global.
Jika akses kembali dibuka secara penuh, tekanan terhadap rantai pasok energi internasional bisa berkurang. Namun keputusan itu sangat bergantung pada respons politik dari Amerika Serikat.
Laporan menyebut Presiden AS Donald Trump kemungkinan besar tidak akan mudah menerima proposal tersebut. Trump sebelumnya menuntut penghentian program nuklir Iran sebagai bagian dari kesepakatan menyeluruh.
Trump mengatakan pihaknya memegang seluruh kartu dalam negosiasi. Pernyataan itu menandakan posisi AS masih menekan dan belum ingin memberi konsesi besar.
Media Axios juga melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menjelaskan kepada mediator dari Pakistan, Mesir, Turki, dan Qatar bahwa belum ada konsensus di internal Iran.
Artinya, arah kebijakan Teheran sendiri masih terus dibahas di level kepemimpinan. Situasi ini membuat peluang kesepakatan cepat masih terlihat rumit.
Trump juga dijadwalkan menggelar pertemuan di Gedung Putih bersama tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri. Pertemuan itu diperkirakan membahas langkah lanjutan terhadap Iran.
Perkembangan ini menjadi sorotan pasar global karena Selat Hormuz menyangkut stabilitas perdagangan energi. Dunia kini menunggu, apakah diplomasi akan bergerak maju atau justru kembali buntu.