IRGC Tegas Tutup Selat Hormuz hingga AS Penuhi Semua Syarat Iran

Oleh Hidayat Taufik pada 10 Aug 2026, 11:02 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Garda Revolusi Iran (IRGC) memastikan Selat Hormuz belum akan kembali dibuka sebelum sejumlah tuntutan Teheran dipenuhi oleh Amerika Serikat.

IRGC menilai kawasan perairan strategis tersebut kini telah menjadi bagian dari konflik militer, bukan lagi sekadar jalur pelayaran internasional. Karena itu, Iran menyatakan pembatasan terhadap lalu lintas kapal akan terus diberlakukan sampai tuntutan mereka mendapatkan kepastian.

Salah satu tuntutan utama Teheran adalah pemberian kompensasi atas kerusakan yang terjadi selama konflik. Iran juga mendesak dihentikannya perang dan berbagai tindakan agresi terhadap Iran serta kelompok yang menjadi sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini hampir mencapai kesepakatan.

Meski demikian, Araghchi menekankan bahwa perkembangan tersebut tidak dapat diartikan sebagai tanda bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka. Menurut dia, keputusan membuka kembali jalur tersebut masih menunggu terpenuhinya sejumlah persyaratan yang telah disampaikan Iran melalui pihak perantara.

Teheran turut menuntut Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran, mencabut sanksi, membuka kembali akses terhadap aset Iran yang dibekukan, serta memberikan ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang.

Araghchi juga membantah adanya perundingan langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa komunikasi kedua negara sejauh ini dilakukan secara tidak langsung melalui pihak ketiga yang berperan sebagai perantara.

Dalam pembicaraan dengan Oman, kedua pihak turut membahas penyusunan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Araghchi mengatakan proses tersebut berkaitan dengan aspek teknis dan hukum, termasuk pembuatan peta untuk rute yang akan digunakan.

Ia menjelaskan bahwa jalur pelayaran yang selama ini digunakan kemungkinan akan digantikan dengan rute baru. Namun, penetapan jalur tersebut tidak serta-merta menandakan bahwa Selat Hormuz telah kembali dibuka secara penuh.

Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah serangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Teheran kemudian memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas dan disebut berencana memberlakukan biaya bagi kapal yang menggunakan jalur pelayaran tersebut.

Situasi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan dan distribusi energi internasional. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran penting dunia sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap keamanan maritim dan pasokan energi global.