JAKARTA, Cobisnis.com – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah jasadnya ditemukan di bawah reruntuhan kompleks kediamannya di Teheran. Kabar ini muncul usai serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian tersebut pada Minggu dini hari. Informasi itu sebelumnya lebih dulu beredar melalui laporan media luar negeri dan pernyataan resmi dari Presiden Amerika Serikat.
Serangan yang menargetkan jantung kekuasaan Iran itu disebut sebagai bagian dari operasi militer berskala besar bernama “Operation Epic Fury”. Dalam 12 jam, dilaporkan sekitar 900 serangan menghantam berbagai titik strategis di Iran.
Target yang disasar mencakup pangkalan militer, fasilitas nuklir, sistem pertahanan udara, hingga gedung pemerintahan. Kompleks tempat Khamenei berada menjadi salah satu sasaran utama dalam gelombang awal serangan.
Tubuh Khamenei ditemukan di antara puing bangunan yang hancur akibat ledakan. Ia dilaporkan mengalami luka parah akibat pecahan proyektil sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai momen penting bagi masa depan Iran. Pernyataan itu memicu reaksi luas, baik dukungan maupun kecaman dari berbagai pihak.
Menteri Pertahanan AS menyebut operasi tersebut sebagai salah satu operasi udara paling kompleks dan presisi dalam sejarah militer modern. Pernyataan ini menegaskan bahwa serangan telah dirancang dalam skala besar dan terkoordinasi.
Kematian Khamenei dinilai sebagai pukulan terberat bagi rezim Iran sejak Revolusi 1979. Selain dirinya, sejumlah pejabat tinggi dilaporkan ikut tewas, termasuk tokoh militer dan elite pemerintahan lainnya.
Di dalam negeri Iran, ribuan warga turun ke jalan di beberapa kota besar. Sebagian menyuarakan duka dan kemarahan, sementara yang lain menyerukan perubahan politik besar di tengah krisis ini.
Iran merespons cepat dengan meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke sejumlah target, termasuk pangkalan militer di kawasan Teluk. Situasi ini membuat ketegangan regional meningkat drastis.
Secara global, dampaknya langsung terasa pada pasar energi dan keuangan. Harga minyak dan emas melonjak, sementara mata uang di sejumlah negara berkembang, termasuk kawasan Asia, tertekan akibat kekhawatiran eskalasi konflik.
Peristiwa ini membuka babak baru dalam peta politik Timur Tengah. Dengan wafatnya figur sentral yang memimpin Iran selama puluhan tahun, arah kepemimpinan dan stabilitas kawasan kini berada dalam fase paling krusial.