Kakak Adik Berselisih, Begini Sikap yang Tepat bagi Orang Tua

Oleh Hidayat Taufik pada 04 Oct 2026, 10:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Perselisihanantara kakak dan adik merupakan hal yang cukup umum terjadi dalam kehidupan keluarga. Penyebabnya beragam, mulai dari berebut barang, saling mengejek, hingga perbedaan keinginan yang berujung pada pertengkaran.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, orang tua sering kali langsung memisahkan anak atau menentukan pihak yang dianggap bersalah. Padahal, respons orang tua dapat menjadi bagian dari proses anak belajar mengelola perbedaan dan menyelesaikan konflik.

Jika pertengkaran hanya berupa perdebatan ringan, orang tua tidak selalu harus segera ikut campur. Namun, situasinya berbeda ketika perselisihan sudah disertai penghinaan, ancaman, makian, atau tindakan fisik.

Mengutip Cleveland Clinic, orang tua dapat mengambil peran sebagai penengah sekaligus membantu anak belajar menyelesaikan konflik, bukan sekadar menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Segera Pisahkan Jika Terjadi Kekerasan

Ketika pertengkaran mulai melibatkan tindakan seperti memukul atau mendorong, orang tua perlu segera memisahkan kedua anak. Tindakan tersebut sebaiknya dilakukan dengan tenang tanpa memperburuk suasana melalui teriakan atau kemarahan.

Anak perlu mengetahui bahwa menyakiti saudara bukan tindakan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan. Setelah kondisi kembali tenang, orang tua dapat mengajak keduanya membahas penyebab pertengkaran.

Orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda ketika perselisihan mulai memanas. Dengan begitu, intervensi dapat dilakukan sebelum konflik berkembang menjadi tindakan yang membahayakan.

Hindari Langsung Menentukan Pihak yang Salah

Orang tua terkadang meminta anak yang lebih tua untuk mengalah karena dianggap lebih memahami situasi. Sebaliknya, anak yang lebih kecil dapat lebih mudah mendapat pembelaan karena usianya.

terapis keluarga mengingatkan bahwa perlakuan seperti itu dapat membuat anak merasa diperlakukan tidak adil. Karena itu, kedua anak sebaiknya diberi kesempatan menyampaikan sudut pandangnya.

Perbedaan usia juga tidak otomatis membuat salah satu anak selalu menjadi pihak yang harus mengalah.

Beri Ruang untuk Menyelesaikan Konflik

Selama perselisihan masih berada dalam batas aman, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba mencari penyelesaian sendiri.

Anak bisa diarahkan untuk mengungkapkan keinginan melalui percakapan, bukan dengan berteriak, mengancam, atau saling menyalahkan.

Namun, anak yang masih berusia di bawah delapan tahun umumnya belum sepenuhnya mampu mengelola konflik secara mandiri. Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat membantu sebagai mediator tanpa mengambil alih seluruh proses penyelesaian.

Dengarkan Kedua Sisi

Ketika suasana sudah lebih tenang, orang tua sebaiknya mendengarkan cerita masing-masing anak secara bergantian. Tidak perlu langsung memaksa mereka meminta maaf sebelum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Mendengarkan keluhan anak bukan berarti membenarkan perilakunya. Anak tetap perlu memahami bahwa rasa marah atau kecewa merupakan hal yang wajar, tetapi menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk melampiaskannya.

Melalui percakapan tersebut, anak juga dapat belajar memahami perasaan dan sudut pandang saudaranya.

Ajak Anak Mencari Solusi

Setelah mendengar penjelasan kedua pihak, orang tua dapat membantu anak menemukan penyelesaian yang dapat diterima bersama.

Misalnya, ketika kakak dan adik menginginkan mainan yang sama, orang tua dapat membantu membuat kesepakatan mengenai giliran bermain atau mengarahkan mereka pada aktivitas lain yang bisa dilakukan bersama.

Cara tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berbagi, berkompromi, dan mencari jalan keluar dari sebuah masalah.

Jangan Membandingkan Kakak dan Adik

Persaingan antarsaudara dapat semakin kuat ketika anak merasa harus berebut perhatian orang tua. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan apakah ada perlakuan yang membuat salah satu anak merasa lebih diutamakan.

Meluangkan waktu secara khusus bersama masing-masing anak dapat membantu mengurangi rasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian.

Pertengkaran kecil antarsaudara tidak selalu membutuhkan campur tangan langsung. Namun, orang tua perlu segera bertindak ketika konflik berubah menjadi kekerasan fisik maupun verbal.

Jika anak mulai memukul, menendang, mendorong dengan keras, mengancam, atau menggunakan benda untuk melukai saudaranya, keduanya perlu dipisahkan terlebih dahulu.

Setelah keadaan aman, orang tua dapat mengajak anak membicarakan kejadian tersebut. Anak juga perlu dibantu memahami dampak perilakunya serta mencari cara yang lebih baik ketika menghadapi perselisihan serupa di kemudian hari.

Dengan pendekatan tersebut, orang tua tidak hanya menghentikan pertengkaran. Anak juga mendapat kesempatan untuk belajar menghadapi konflik secara lebih sehat.