JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah tokoh Partai Demokrat Amerika Serikat yang menghadiri Konferensi Keamanan Munich akhir pekan ini disebut-sebut memiliki ambisi menuju Gedung Putih pada 2028. Namun, bahkan jika salah satu dari mereka menang, muncul pertanyaan besar: apakah presiden AS berikutnya masih bisa menyandang gelar lama sebagai “pemimpin dunia bebas”?
Gubernur California Gavin Newsom menyatakan negaranya lebih permanen dibanding Presiden Donald Trump. Meski demikian, ia mengakui bahwa banyak pemimpin Eropa percaya kerusakan terhadap aliansi transatlantik sudah sulit diperbaiki.
Bintang progresif dari New York, Alexandria Ocasio-Cortez, datang dengan gagasan kebijakan luar negeri populis kiri, tetapi justru menjadi sorotan karena jawaban yang dinilai kurang tegas terkait kemungkinan pembelaan AS terhadap Taiwan jika terjadi invasi China.
Sejumlah senator Demokrat lain, termasuk Mark Kelly, juga berupaya memperkuat kredibilitas kebijakan luar negeri mereka. Namun, pertemuan dengan Perdana Menteri Denmark berlangsung canggung setelah komentar Senator Republik Lindsey Graham menyinggung kembali ambisi Trump terhadap Greenland, wilayah semi-otonom Denmark.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendapat tepuk tangan singkat dari para pemimpin Eropa. Dalam pidatonya yang lebih lunak dibanding Wakil Presiden JD Vance tahun sebelumnya, Rubio tetap menyatakan kepada wartawan bahwa “dunia lama telah berakhir.” Ia bahkan melanjutkan perjalanan ke Slovakia dan Hungaria, dua negara yang dipimpin tokoh kuat yang simpatik terhadap Trump.
Dalam pidato pembuka konferensi, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan realitas baru Eropa. “Sebuah jurang telah terbuka antara Eropa dan Amerika Serikat,” katanya. Ia menambahkan klaim kepemimpinan global AS kini “ditantang, dan mungkin telah hilang.”
Merz juga mengungkap adanya pembicaraan rahasia dengan Prancis mengenai pencegah nuklir Eropa sebuah sinyal bahwa kepercayaan tanpa syarat pada perlindungan AS tak lagi utuh.
Amerika Yang Melemah
Suasana Munich kali ini sangat berbeda dibanding era mendiang Senator John McCain, yang dulu menjadikan konferensi ini panggung penting kepemimpinan Barat. Kutipannya tahun 2017 masih terpampang di hotel Bayerischer Hof: “Saya menolak menerima runtuhnya tatanan dunia kita.”
Namun tahun ini, kehadiran anggota Kongres AS relatif minim. Beberapa Demokrat seperti Chris Coons mencoba menjaga tradisi diplomasi lintas partai, tetapi bayang-bayang perpecahan tetap terasa kuat. Di sisi lain, Graham memperingatkan bahwa kegagalan AS bertindak tegas terhadap Iran akan melemahkan kredibilitas Amerika di mata Rusia dan China.
Kekuatan Atau Kelemahan?
Beberapa Demokrat yang hadir di Munich termasuk Newsom, Ocasio-Cortez, Kelly, hingga Gubernur Michigan Gretchen Whitmer dipandang sebagai calon potensial 2028. Newsom menilai Eropa melihat AS sebagai “bola perusak” dan tidak lagi dapat diandalkan. Meski demikian, ia yakin hubungan masih bisa diperbaiki. Mengutip mantan Presiden Bill Clinton, ia mengatakan publik Amerika cenderung memilih “kuat meski salah daripada lemah meski benar.”
Di dalam negeri, posisi Demokrat mulai membaik seiring turunnya tingkat persetujuan terhadap Trump dan peluang merebut kembali DPR dalam pemilu sela. Namun di luar negeri, skeptisisme tetap besar.
Menurut Merz, “Tatanan internasional berbasis hukum dan aturan sedang dihancurkan.” Ia menegaskan bahwa sistem pasca-Perang Dunia II kini tidak lagi eksis dalam bentuk yang sama. Dengan dinamika ini, Demokrat menghadapi tantangan ganda: membangun kembali kepercayaan sekutu Eropa sekaligus merumuskan visi baru kepemimpinan global Amerika di era yang semakin multipolar.