JAKARTA, Cobisnis.com - Waktu tidur yang kurang pada malam hari dapat menyebabkan tubuh terasa lemas dan membuat konsentrasi menurun pada keesokan harinya. Oleh sebab itu, tidak sedikit orang yang berusaha mengganti waktu tidur tersebut ketika akhir pekan tiba.
Menambah waktu tidur dapat membantu tubuh memulihkan sebagian dampak akibat kurang tidur. Namun, durasinya tetap perlu dikendalikan agar tidak mengganggu jadwal tidur pada malam berikutnya.
Secara umum, orang dewasa dianjurkan memperoleh tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Sedangkan remaja membutuhkan waktu tidur yang lebih panjang, yakni sekitar delapan hingga 10 jam.
Namun, tuntutan aktivitas pada hari kerja membuat kebutuhan tersebut terkadang tidak terpenuhi. Kondisi ini kemudian mendorong sebagian orang untuk tidur lebih lama ketika memasuki akhir pekan.
Survei yang melibatkan hampir 8.000 orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa hampir separuh responden memiliki kebiasaan memperpanjang waktu tidur pada akhir pekan. Kebiasaan tersebut tercatat paling banyak dilakukan oleh remaja.
Tidur Lebih Lama Bisa Mengubah Pola Tidur
Sistem tidur manusia pada dasarnya diatur oleh dua mekanisme penting, yakni sleep homeostat dan ritme sirkadian.
Sleep homeostat berperan dalam mengatur keseimbangan kebutuhan tidur. Mekanisme ini bekerja seperti “tangki tidur”. Semakin lama seseorang tidak tidur, semakin kuat pula dorongan tubuh untuk beristirahat.
Sementara itu, ritme sirkadian merupakan sistem jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun. Mekanisme tersebut dipengaruhi oleh cahaya, kondisi gelap, perubahan suhu, waktu makan, hingga aktivitas sehari-hari.
Karena itu, perubahan jadwal tidur dan bangun secara drastis dapat memengaruhi keseimbangan kedua sistem tersebut.
Sebagai contoh, bangun terlalu siang pada akhir pekan dapat membuat rasa kantuk berkurang pada malam hari. Akibatnya, seseorang berpotensi tidur lebih larut dari biasanya.
Selain itu, perubahan waktu terpapar cahaya dan melakukan aktivitas juga dapat memengaruhi ritme sirkadian tubuh.
Kondisi tersebut bisa membuat seseorang bangun lebih siang pada Minggu. Kemudian, waktu tidurnya kembali mundur pada Minggu malam. Saat Senin tiba, ia harus kembali bangun pagi sehingga waktu tidurnya berpotensi berkurang.
“Rasanya seperti berpindah zona waktu setiap minggunya,” ujar Melynda Casement, psikolog tidur dan direktur Laboratorium Tidur Universitas Oregon, dikutip (16/9/26).
Meski begitu, tidur tambahan atau catch-up sleep tidak selalu berdampak buruk bagi tubuh.