JAKARTA, Cobisnis.com — Polemik muncul setelah seorang alumni penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, mengunggah konten media sosial yang menyebut dirinya cukup menjadi WNI, sementara anak-anaknya diharapkan menjadi warga negara asing. Pernyataan itu memicu reaksi keras publik karena dinilai merendahkan Indonesia, padahal yang bersangkutan pernah menikmati fasilitas beasiswa negara.
Unggahan tersebut menjadi viral setelah diketahui bahwa anak keduanya resmi berstatus warga negara Inggris. Narasi yang disampaikan dianggap tidak etis dan tidak mencerminkan nilai integritas sebagai penerima beasiswa negara.
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, menyatakan pihaknya menyayangkan sikap tersebut karena tidak sejalan dengan nilai profesionalisme dan etika yang ditanamkan kepada seluruh awardee dan alumni LPDP. Ia menegaskan bahwa setiap penerima beasiswa memiliki kewajiban masa pengabdian di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun.
Dalam kasus Dwi Sasetyaningtyas, masa studi S2 selama dua tahun berarti kewajiban kontribusi lima tahun. LPDP menyatakan bahwa kewajiban tersebut telah diselesaikan, sehingga tidak ada lagi ikatan hukum. Meski demikian, LPDP tetap akan melakukan pendekatan persuasif agar yang bersangkutan lebih bijak menggunakan media sosial dan memahami sensitivitas publik.
Polemik juga menyeret suami Dwi yang merupakan sesama alumni LPDP dan diduga belum menyelesaikan kewajiban pengabdian. LPDP menyatakan akan melakukan klarifikasi serta proses penindakan jika terbukti terjadi pelanggaran, termasuk kemungkinan sanksi dan pengembalian dana beasiswa.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa beasiswa negara adalah amanah dan bentuk kepercayaan negara kepada warganya, bukan sekadar fasilitas pendidikan.
Menurut Stella, persoalan utama bukan terletak pada sistem beasiswanya, melainkan pada pemahaman moral penerimanya. Ia menilai pembatasan berlebihan justru dapat melahirkan sikap sinis dan menghilangkan rasa syukur terhadap negara.
Stella juga menekankan bahwa kontribusi kepada Indonesia tidak selalu harus diwujudkan dengan pulang ke Tanah Air. Dalam banyak kasus, diaspora justru dapat memberi manfaat besar melalui posisi strategis di luar negeri. Ia mencontohkan tokoh global seperti Sundar Pichai yang memberi dampak ekonomi besar bagi negaranya.
Ia menambahkan bahwa menanamkan rasa kebangsaan bisa dimulai dari keluarga, termasuk dengan penggunaan bahasa Indonesia di rumah dan membangun kebanggaan identitas nasional pada anak sejak dini.
Di sisi lain, kritik juga datang dari DPR yang menyoroti bahwa program LPDP berpotensi lebih banyak dinikmati kelompok ekonomi mampu karena persyaratan akademik dan bahasa yang sulit diakses masyarakat kurang mampu. DPR mendorong agar negara memperkuat afirmasi dan program persiapan agar akses beasiswa lebih adil dan inklusif.