Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Nusakambangan

Oleh Desti Dwi Natasya pada 21 Oct 2026, 11:57 WIB

BKSDA Jawa Tengah merekam seekor macan tutul Jawa di Cagar Alam Nusakambangan Barat saat pemantauan pada 12–15 Oktober 2026.

JAKARTA, Cobisnis.com - Seekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) terekam kamera jebak di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Rekaman tersebut diperoleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah dalam kegiatan pemantauan yang berlangsung pada 12–15 Oktober 2026.

Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap, Wahyono Restanto, mengatakan rekaman itu belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan jumlah populasi macan tutul Jawa di seluruh Pulau Nusakambangan.

“Pemantauan kemarin hanya sebentar. Yang tertangkap kamera trap satu individu, kemungkinan terekam pada Selasa (13/10) malam hingga Rabu (14/10) dini hari,” katanya.

Berdasarkan penelitian terakhir, populasi macan tutul Jawa di Pulau Nusakambangan diperkirakan mencapai sekitar 20 individu.

Khusus di Cagar Alam Nusakambangan Barat, satwa tersebut beberapa kali terpantau dengan perkiraan keberadaan empat individu, sedangkan di Cagar Alam Nusakambangan Timur diperkirakan terdapat enam individu.

Sementara itu, individu lainnya diperkirakan berada di kawasan hutan di luar cagar alam.

Wahyono menegaskan bahwa angka tersebut berasal dari pengamatan di kawasan tertentu dan belum mencerminkan hasil pendataan menyeluruh terhadap populasi macan tutul Jawa di seluruh Pulau Nusakambangan.

Berbagai Satwa Liar Terpantau di Nusakambangan

Pemantauan menggunakan kamera jebak tidak hanya merekam keberadaan macan tutul Jawa, tetapi juga sejumlah satwa liar lain yang hidup di kawasan tersebut.

Satwa yang terpantau antara lain kancil, kijang, landak, dan biawak.

Selain itu, beberapa satwa yang dilindungi dan relatif jarang terlihat, seperti binturong (Arctictis binturong), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), dan elang Jawa (Nisaetus bartelsi), juga pernah terpantau dalam kegiatan pemantauan di Nusakambangan.

“Keberadaan berbagai jenis satwa tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian habitat di kawasan konservasi Nusakambangan,” katanya.

Aktivitas Pembangunan Perlu Diperhatikan

Terkait aktivitas proyek pembangunan di sejumlah lokasi di Pulau Nusakambangan, Wahyono mengatakan kegiatan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi satwa liar dan habitatnya.

Namun, pihaknya belum melakukan kajian terperinci untuk mengetahui besaran dampak aktivitas pembangunan terhadap keberadaan maupun pergerakan satwa di kawasan tersebut.

"Kami masih berfokus pada pemantauan di kawasan cagar alam, sehingga belum bisa menjelaskan secara detail pengaruh aktivitas proyek pembangunan terhadap satwa liar," ucapnya.

Wahyono meminta masyarakat, petugas lembaga pemasyarakatan, serta pekerja yang beraktivitas di Nusakambangan untuk tidak mengganggu, menangkap, atau memburu satwa liar yang dijumpai.