Maskapai Internasional Batalkan Ratusan Penerbangan ke Timur Tengah

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 Mar 2026, 15:51 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Gelombang pembatalan penerbangan ke Timur Tengah terjadi secara masif setelah konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas. Maskapai dari berbagai negara memilih menghentikan operasional demi alasan keselamatan.

Data pemantauan penerbangan pada Sabtu (28/2) menunjukkan ruang udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, dan Bahrain nyaris kosong. Jalur yang biasanya padat kini terlihat lengang karena maskapai mengalihkan atau membatalkan rute.

Regulator penerbangan Uni Eropa bahkan mengeluarkan rekomendasi resmi agar maskapai menghindari wilayah udara yang terdampak intervensi militer. Langkah ini menjadi sinyal bahwa risiko keamanan dinilai sangat serius.

Analis penerbangan berbasis di Inggris, John Strickland, menyebut ratusan ribu penumpang berpotensi terjebak tanpa kepastian jadwal ulang. Dampaknya terasa global karena Timur Tengah merupakan simpul penting jalur penerbangan internasional.

Maskapai besar dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah langsung mengambil keputusan cepat. Penangguhan berlaku berbeda-beda, mulai hingga 2 Maret 2026 sampai 3 Maret 2026, sambil memantau perkembangan situasi keamanan.

Beberapa maskapai membatalkan rute ke Tel Aviv, Beirut, Erbil, Dubai, Doha, Jeddah, hingga Amman. Bahkan penerbangan jarak jauh dari India menuju London, New York, Chicago, Toronto, Frankfurt, dan Paris ikut terdampak.

Langkah ini menunjukkan bahwa konflik regional bisa berdampak langsung pada konektivitas global. Jalur udara Timur Tengah selama ini menjadi koridor utama penerbangan Asia-Eropa dan Asia-Amerika Utara.

Gangguan ini disebut sebagai salah satu yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Industri penerbangan yang baru pulih dari tekanan pandemi kini kembali menghadapi tantangan geopolitik besar.

Secara ekonomi, pembatalan massal berarti kerugian besar bagi maskapai dan operator bandara. Penumpukan penumpang, biaya pengalihan rute, hingga kompensasi tiket menjadi beban tambahan yang tidak kecil.

Situasi ini juga berdampak pada sektor logistik dan kargo udara. Pengiriman barang bernilai tinggi, termasuk komoditas dan suku cadang industri, ikut tertunda akibat terbatasnya akses ruang udara.

Dengan ketidakpastian yang masih berlangsung, maskapai memilih berhati-hati. Keputusan operasional selanjutnya akan sangat bergantung pada stabilitas keamanan dan pembukaan kembali wilayah udara yang saat ini ditutup.