JAKARTA, Cobisnis.com — Cara membersihkan diri setelah buang air besar berbeda di banyak wilayah dunia. Di Asia dan Timur Tengah, masyarakat umumnya memakai air. Sementara itu, banyak negara Barat lebih terbiasa menggunakan tisu toilet.
Perbedaan ini muncul dari berbagai faktor. Sejarah, budaya, lingkungan, dan kebiasaan hidup ikut membentuk pilihan tersebut.
Sejak masa lampau, manusia sudah menggunakan beragam cara untuk menjaga kebersihan. Mereka memakai air, daun, batu, hingga bahan lain yang tersedia di sekitar.
Meski kini identik dengan negara Barat, penggunaan bahan berbasis kertas pertama kali tercatat di China. Wilayah ini juga menjadi tempat berkembangnya teknologi pembuatan kertas.
Setelah produksi kertas berkembang, tisu toilet semakin mudah dibuat dan dijual secara luas. Karena itu, masyarakat Barat mulai menjadikannya bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Iklim juga ikut memengaruhi kebiasaan tersebut. Di wilayah bersuhu dingin, banyak orang merasa penggunaan air kurang nyaman. Sementara itu, tisu dianggap lebih praktis dan cepat digunakan.
Di sisi lain, masyarakat di daerah tropis lebih akrab dengan air. Mereka juga lebih sering menggunakan air untuk aktivitas kebersihan harian.
Selain faktor iklim, pola makan turut berperan. Jenis makanan dapat memengaruhi kondisi pencernaan dan cara seseorang merasa nyaman saat membersihkan diri.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa air mampu membantu proses pembersihan lebih menyeluruh. Namun, pilihan akhir tetap bergantung pada budaya dan kebiasaan masing-masing masyarakat.
Pada akhirnya, kebiasaan menggunakan tisu atau air berkembang dari kombinasi sejarah, teknologi, kondisi lingkungan, dan tradisi yang berlangsung selama bertahun-tahun.