“Mengapa Negara Arab Tidak Membela Iran? Jawabannya Lebih Rumit dari Sekadar Agama”

Oleh Hidayat Taufik pada 07 Mar 2026, 21:46 WIB

​JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia. Di tengah dinamika konflik kawasan, Iran sering terlihat menghadapi tekanan geopolitik tanpa dukungan terbuka dari banyak negara Arab, meskipun sama-sama berada di kawasan Timur Tengah dan mayoritas berpenduduk Muslim.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa negara-negara Arab tidak secara terang-terangan membela Iran. Jawabannya tidak sesederhana soal solidaritas agama. Faktor politik, keamanan, ekonomi, hingga sejarah panjang rivalitas regional memainkan peran besar dalam menentukan sikap negara-negara tersebut.

Rivalitas pengaruh di kawasanSalah satu faktor utama adalah persaingan pengaruh di Timur Tengah. Iran selama bertahun-tahun membangun hubungan dengan sejumlah kelompok bersenjata di berbagai wilayah. Di Yaman terdapat kelompok Houthi movement, di Lebanon ada Hezbollah, sementara di Gaza Strip terdapat Hamas.

Kehadiran kelompok-kelompok tersebut sering dipandang oleh beberapa negara Arab sebagai bentuk perluasan pengaruh Iran di kawasan. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa Iran berupaya memperkuat posisi geopolitiknya di Timur Tengah.

Perbedaan mazhab dan sejarahSelain rivalitas politik, faktor sejarah juga turut memengaruhi hubungan Iran dengan negara-negara Arab. Iran merupakan negara dengan mayoritas penduduk Syiah, sementara sebagian besar negara di kawasan Teluk berpenduduk mayoritas Sunni.

Perbedaan mazhab ini memiliki akar sejarah panjang dalam dunia Islam. Meski demikian, para pengamat menilai bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini lebih banyak dipengaruhi kepentingan politik dan keamanan daripada semata-mata faktor agama.

Sikap negara-negara ArabBeberapa negara Arab memiliki kepentingan berbeda dalam memandang Iran.

Arab Saudi misalnya, merupakan salah satu rival utama Iran di kawasan. Kerajaan ini memandang dirinya sebagai penjaga dua kota suci Islam di Mekah dan Madinah. Riyadh juga memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, Uni Emirat Arab lebih menekankan stabilitas ekonomi. Negara ini merupakan pusat perdagangan dan bisnis regional, terutama di Dubai. Konflik besar di kawasan dinilai berpotensi mengganggu investasi dan aktivitas ekonomi.Di sisi lain, Bahrain memiliki dinamika domestik tersendiri. Mayoritas penduduknya beraliran Syiah, sementara pemerintahannya dipimpin kelompok Sunni. Negara ini juga menjadi lokasi pangkalan United States Fifth Fleet milik Amerika Serikat.

Adapun Yordania cenderung mengedepankan stabilitas wilayahnya. Negara tersebut berupaya menjaga agar konflik regional tidak meluas ke wilayah udaranya maupun kawasan sekitarnya.

Perubahan dinamika kawasanDalam beberapa tahun terakhir, sebagian negara Arab juga mulai membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Bagi sebagian negara Teluk, kerja sama di bidang teknologi dan keamanan dinilai penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan menghadapi berbagai ancaman regional.

Perubahan ini menunjukkan bahwa prioritas geopolitik di Timur Tengah terus berkembang, dan hubungan antarnegara tidak lagi semata ditentukan oleh garis konflik lama.

Faktor ekonomi dan jalur energiFaktor ekonomi juga berperan penting. Jalur pelayaran di Selat Hormuz merupakan salah satu rute paling strategis bagi perdagangan minyak dunia.

Ketegangan di wilayah ini dapat berdampak besar pada stabilitas ekonomi negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada ekspor energi.

Karena itu, banyak negara di kawasan memilih menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan regional dibanding terlibat langsung dalam konflik yang dapat memperburuk situasi.

Kepentingan nasional menjadi prioritasKondisi ini menunjukkan bahwa dalam politik internasional, hubungan antarnegara lebih banyak ditentukan oleh kepentingan strategis masing-masing.

Meskipun berada di kawasan yang sama dan memiliki kedekatan budaya maupun agama, negara-negara Arab memiliki perhitungan politik dan keamanan yang berbeda dalam menyikapi Iran.

Pada akhirnya, dinamika Timur Tengah tetap dipengaruhi oleh keseimbangan kekuatan, kepentingan ekonomi, serta strategi keamanan yang terus berubah seiring waktu.