JAKARTA, Cobisnis.com – Istilah Afro-Appalachia mungkin belum familiar bagi banyak orang. Namun penyanyi-penulis lagu Mon Rovîa bertekad mengubah itu, dengan membawa kisah identitas, akar Afrika Barat, dan tradisi folk Appalachian ke panggung global. Perjalanan naratif ini seolah beresonansi dengan film “Sinners” garapan Ryan Coogler yang meraih 16 nominasi Oscar. Film tersebut mengisahkan Sammie, anak seorang pendeta dengan suara luar biasa yang terhubung dengan warisan leluhurnya merujuk pada tradisi griot, pendongeng Afrika Barat yang menyampaikan sejarah melalui puisi dan lagu.
Bagi Mon Rovîa nama panggung Janjay Lowe yang diambil dari ibu kota Liberia peran sebagai “griot modern” terasa sangat personal. Lahir di Liberia saat perang saudara yang menewaskan lebih dari 200.000 orang antara 1989 hingga 2003, Lowe diadopsi oleh misionaris Kristen Amerika pada usia tujuh tahun dan dibesarkan di berbagai negara bagian AS sebelum menetap di Chattanooga, Tennessee, di kaki Pegunungan Appalachian.
Di kota itulah ia mulai memetik ukulele bukan gitar Dobro seperti tokoh Sammie dan menemukan jalannya sebagai musisi. Menariknya, semasa kecil ia nyaris tak mendengarkan musik selain lagu-lagu gereja. Belakangan, ia terinspirasi oleh nuansa folk Mumford & Sons, Bon Iver, dan Adrianne Lenker, meski unsur spiritual tetap membekas dalam karya-karyanya.
Identitas yang Retak dan Dirangkai Ulang
Musik Mon Rovîa yang ia sebut sebagai “Afro-Appalachian” merefleksikan pergulatan identitasnya. Ia pernah mengalami nyaris kematian akibat konflik bersenjata di Liberia, berjuang melawan depresi, menghadapi duka, serta merasakan keterasingan dari keluarga biologisnya. Dalam lagu-lagunya seperti “Day at the Soccer Fields,” “Cleopatra,” “Damn These Forces,” hingga “Whose Face Am I?”, Lowe mengharmonikan trauma dan harapan. Ia mengakui sempat merasa sulit mengklaim warisan Liberia yang terputus sejak kecil, namun melalui musik ia mencoba merebut kembali identitas itu.
Secara historis, musik folk Appalachian kerap diasosiasikan dengan musisi kulit putih seperti Carter Family, Jean Ritchie, dan Dolly Parton. Namun kontribusi warga Afrika-Amerika dalam membentuk suara Appalachian kerap terabaikan. Sejak abad ke-16, orang Afrika Barat yang dibawa sebagai budak memperkenalkan instrumen berbahan labu yang menjadi cikal bakal banjo elemen penting dalam musik folk wilayah tersebut.
Dari TikTok ke Panggung Dunia
Keterbukaan Mon Rovîa tentang luka dan kerentanannya membuatnya dicintai basis penggemar yang terus tumbuh, termasuk hampir satu juta pengikut di TikTok banyak di antaranya dari Liberia. Salah satu unggahannya yang ditonton lebih dari 4,8 juta kali mengajak pendengar menikmati “lagu seperti nina bobo untuk orang dewasa.”
Baginya, musik adalah ruang aman. Tempat orang bisa duduk dengan kegelisahan mereka tanpa kebisingan dunia. Pendekatan itu juga terasa dalam single 2025 bertajuk “Heavy Foot,” yang sebagian orang sebut sebagai lagu protes. Liriknya menyentuh soal tekanan pemerintah dan pentingnya kebersamaan. Mon Rovîa tak menolak label tersebut, namun ia menegaskan bahwa yang ia suarakan adalah kebenaran. Jika kebenaran terasa seperti protes, itu karena ada realitas yang tak ingin didengar sebagian pihak.
Pulang dengan Rekonsiliasi
Ke depan, Lowe berharap dapat kembali ke Liberia pada 2027 untuk menggelar konser rekonsiliasi gratis sebagai bentuk balas cinta kepada para penggemar di tanah kelahirannya. Baginya, kembali sebagai sosok yang bisa menginspirasi masyarakat Liberia adalah mimpi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari kisah perang saudara hingga panggung internasional, Mon Rovîa menjahit ulang serpihan identitas menjadi harmoni Afro-Appalachia suara yang merangkul sejarah Afrika Barat dan jiwa pegunungan Amerika dalam satu tarikan napas.