JAKARTA, Cobisnis.com — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada Agustus 2026, dinamika internal mulai menguat. Persaingan kini tidak hanya soal Ketua Umum.
Sebaliknya, para elite mulai menyusun pasangan dengan calon Rais Aam. Pola ini membuat kontestasi semakin kompleks.
Saat ini, Yahya Cholil Staquf masih memegang posisi petahana. Ia kini mencari figur Rais Aam untuk memperkuat dukungan.
Di sisi lain, Miftachul Akhyar bersama Saifullah Yusuf mulai menyiapkan strategi baru. Mereka juga menimbang kandidat alternatif.
Sementara itu, nama Nazaruddin Umar mulai mendapat perhatian. Ia disebut memiliki dukungan dari lingkar kekuasaan.
Selain itu, poros Partai Kebangkitan Bangsa dan IKA PMII mulai mengerucut. Mereka mendorong Said Aqil Siradj sebagai kandidat Rais Aam.
Kemudian, kekuatan dari Jawa Timur juga bergerak. Mereka mengusung nama seperti Abdul Hakim Mahfuz dan Marzuki Mustamar.
Beberapa skenario pasangan mulai dibahas. Bahkan, sebagian pihak mendorong koalisi besar untuk mengunci kemenangan lebih awal.
Dari sisi suara, peta kekuatan mulai terlihat. Jaringan PKB–IKA PMII diperkirakan menguasai sekitar 250 suara.
Sementara itu, jaringan yang terkait Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara. Basis petahana dan Rais Aam masing-masing sekitar 100 suara.
Namun, puluhan suara lain masih mengambang. Karena itu, semua pihak terus melakukan lobi.
Di NU, arah dukungan sering berubah. Konsolidasi kiai dan komunikasi jaringan menjadi faktor penentu.
Selain itu, kompromi politik juga memegang peran penting. Tanpa kesepakatan, koalisi bisa mudah pecah.
Salah satu skenario besar mulai muncul. Poros PKB–PMII berpeluang membangun koalisi luas.
Dalam skema ini, Muhaimin Iskandar disebut menjadi aktor penting di belakang layar.
Namun, dinamika ini memunculkan kekhawatiran baru. Banyak pihak menyoroti potensi intervensi politik.
Karena itu, Muktamar ini menjadi momentum penting. NU perlu menjaga independensi organisasi.
Pada akhirnya, Muktamar ke-35 bukan sekadar pemilihan pemimpin. Forum ini akan menentukan arah masa depan NU.Apakah NU tetap menjadi kekuatan moral umat, atau justru masuk ke pusaran politik praktis, masih menjadi pertanyaan besar.