JAKARTA, Cobisnis.com — Katarak menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di Indonesia. Meski berbagai program operasi gratis telah tersedia, masih banyak pasien yang enggan menjalani tindakan medis untuk memulihkan penglihatan mereka.
Berdasarkan data nasional, sekitar 3 persen penduduk berusia di atas 50 tahun mengalami kebutaan. Sebanyak 80 persen kasus kebutaan tersebut disebabkan oleh katarak.
Berbagai pihak telah berupaya memperluas akses pengobatan, termasuk menyediakan layanan operasi tanpa biaya. Namun, ketersediaan fasilitas dan bantuan pembiayaan belum sepenuhnya membuat pasien bersedia menjalani operasi.
Keengganan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kurangnya informasi mengenai program gratis. Rasa takut terhadap prosedur operasi dan risiko kehilangan penglihatan juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan pasien.
Takut Mengalami Kebutaan Permanen
Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menjelaskan bahwa diagnosis katarak dapat menimbulkan kecemasan bagi sebagian pasien.
Ketika penglihatan mulai menurun, anjuran dokter untuk menjalani operasi justru bisa memicu kepanikan. Pasien kerap membayangkan kemungkinan terburuk, termasuk kehilangan penglihatan secara permanen.
"Pada saat seseorang mengalami sakit, terutama penglihatannya mulai menurun, waktu dikatakan jalan keluarnya adalah operasi, apa respon mereka? 'Bisa buta, enggak?' Padahal mereka sudah dalam status buta sebetulnya," terangnya dalam konferensi pers kick off Bakti Katarak 101 - JEC Eye Hospitals & Clinics di RS Mata JEC Kedoya, dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Tjahjono, kekhawatiran tersebut terkadang lebih kuat daripada keinginan pasien untuk kembali melihat dengan jelas.
"Ketakutan itu lebih besar daripada keinginan untuk bisa melihat," lanjut dr. Tjahjono.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi tenaga medis. Dokter perlu memberikan penjelasan yang memadai agar pasien memahami kondisi matanya dan tidak terus menunda penanganan yang diperlukan.
Pengalaman Operasi pada Masa Lalu
Selain rasa takut terhadap kebutaan, pengalaman dan cerita mengenai prosedur operasi pada masa lalu turut memengaruhi persepsi masyarakat.
Dahulu, operasi katarak membutuhkan sayatan lebih besar. Proses pemulihannya juga cenderung lebih panjang sehingga pasien harus membatasi sejumlah aktivitas sehari-hari.
"Ketakutan itu bukan tidak beralasan, karena teknologi yang dahulu, dengan luka sayatan yang besar, kemudian cerita bahwa operasinya itu menakutkan," jelas dr. Tjahjono.
Pasien pada masa lalu juga mengenal berbagai pantangan setelah operasi. Mereka biasanya diminta menghindari aktivitas tertentu, seperti membungkuk, mengangkat barang berat, hingga tidur dengan posisi miring.
"Lalu setelah operasi dahulu dibilang tidak boleh nunduk, tidak boleh ngangkat barang, dan tidak boleh tidur miring dan sebagainya, itu membuat suatu perasaan bahwa begitu menyulitkannya," ucap dr. Tjahjono.
Pengalaman tersebut kemudian membentuk anggapan bahwa operasi katarak merupakan prosedur yang menakutkan dan membutuhkan pemulihan yang sulit.
Teknologi Operasi Katarak Semakin Modern
Perkembangan teknologi medis telah mengubah prosedur operasi katarak. Salah satu metode yang digunakan saat ini adalah phacoemulsification, yakni teknik yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk menghancurkan lensa mata yang mengalami katarak agar dapat dikeluarkan.
Menurut Tjahjono, teknik tersebut memungkinkan dokter melakukan operasi melalui sayatan berukuran kecil, sekitar 2,3 milimeter.
"Insisinya hanya sekitar 2,3 milimeter ya. Dan setelah itu katarak tersebut diemulsifikasikan, dijadikan cairan ya, larutan. Dengan tekanan gelombang ultrasonik yang ditembakkan," papar dr. Tjahjono.
Ukuran sayatan yang kecil memungkinkan operasi dilakukan tanpa jahitan pada banyak kasus. Teknik ini juga dapat mengurangi risiko perubahan bentuk kornea yang memicu astigmatisme atau mata silinder.
Proses pemulihan penglihatan pun dapat berlangsung relatif cepat, meskipun hasilnya berbeda pada setiap pasien, bergantung pada kondisi mata dan adanya gangguan lain.
"Jadi kalau dengan teknologi yang kecil, hari ini dioperasi, besok pun sudah bisa lihat. Sehingga sangat berbeda," pungkas dr. Tjahjono.
Perkembangan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketakutan masyarakat terhadap operasi katarak. Dengan memperoleh informasi yang tepat dan berkonsultasi dengan dokter mata, pasien dapat memahami pilihan penanganan yang sesuai dengan kondisi penglihatannya.