Pasar Mulai Tenang, Harga Minyak Turun Seiring Sinyal Negosiasi Iran–AS

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 24 Apr 2026, 19:25 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia berbalik turun setelah muncul sinyal kemungkinan dimulainya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang meredakan kekhawatiran pasar.

Perubahan sentimen terjadi cepat setelah laporan mengenai kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Pakistan. Agenda tersebut dinilai membuka peluang pembicaraan damai dengan pihak Amerika Serikat.

Sinyal ini langsung memengaruhi pergerakan pasar energi global. Harga yang sebelumnya sempat naik tajam kini mulai terkoreksi.

Pelaku pasar merespons positif kemungkinan meredanya konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik selama ini menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga minyak.

Data menunjukkan kontrak minyak mentah Brent turun 96 sen atau sekitar 0,9 persen menjadi US$104,11 per barel. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga sempat melonjak lebih dari 2,1 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah sebesar US$1,99 atau 2,1 persen ke level US$93,86 per barel. Pergerakan ini mencerminkan koreksi pasar yang cukup cepat.

Penurunan harga minyak menjadi indikasi bahwa pasar sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Harapan terhadap stabilitas langsung menekan harga komoditas energi.

Jika negosiasi benar-benar berjalan, potensi gangguan pasokan minyak global bisa berkurang. Hal ini akan memberikan ruang bagi harga untuk bergerak lebih stabil.

Namun, kondisi ini masih sangat bergantung pada perkembangan diplomasi ke depan. Pasar tetap berhati-hati mengingat situasi kawasan masih dinamis.

Di sisi lain, volatilitas harga minyak berdampak luas terhadap ekonomi global. Perubahan harga dapat memengaruhi inflasi, biaya produksi, hingga harga energi di berbagai negara.

Bagi negara importir, penurunan harga minyak bisa menjadi kabar baik karena mengurangi tekanan biaya. Namun bagi produsen, kondisi ini bisa menekan pendapatan.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi dan stabilitas geopolitik di Timur Tengah.