Perang Iran Belum Usai, Trump Sudah Bicara Soal Tekanan ke Kuba

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 06 Mar 2026, 22:24 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal kemungkinan operasi militer terhadap Kuba setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran selesai.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berada di Gedung Putih pada Kamis (5/3/2026). Ia berbicara di hadapan rombongan tim sepak bola Inter Miami yang berkunjung setelah menjuarai Major League Soccer 2025.

Dalam kesempatan itu, Trump menyampaikan bahwa pemerintahannya saat ini ingin menyelesaikan konflik di Iran terlebih dahulu. Namun ia mengisyaratkan bahwa langkah terhadap Kuba hanya tinggal menunggu waktu.

Trump menyebut situasi di Kuba menjadi perhatian pemerintahannya selama beberapa waktu terakhir. Amerika Serikat diketahui telah memperketat berbagai sanksi ekonomi terhadap negara pulau di kawasan Karibia tersebut.

Ia juga memuji Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang disebut telah melakukan pekerjaan penting terkait kebijakan terhadap Kuba. Menurut Trump, tekanan ekonomi yang diterapkan Washington bertujuan melemahkan pemerintahan komunis di Havana.

Pernyataan Trump muncul di tengah konflik militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Amerika Serikat bersama Israel saat ini terlibat dalam operasi militer terhadap Iran yang memicu ketegangan geopolitik global.

Dalam beberapa pernyataannya, Trump bahkan mengklaim bahwa militer AS dan Israel terus menghancurkan kekuatan lawan di Iran. Konflik tersebut diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu ke depan.

Sinyal kebijakan terhadap Kuba menambah daftar agenda luar negeri agresif pemerintahan Trump. Dalam beberapa bulan terakhir, Washington juga melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Setelah operasi tersebut, pemerintah AS juga memutus jalur pasokan minyak Venezuela ke Kuba. Pasokan energi dari Venezuela selama ini menjadi salah satu penopang penting bagi perekonomian Kuba yang sedang tertekan sanksi.

Penggunaan kekuatan militer dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat memicu berbagai kritik dari sejumlah pihak internasional. Beberapa analis menilai langkah tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.

Situasi ini membuat dinamika politik global semakin tidak stabil, terutama karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Perkembangan kebijakan AS terhadap Kuba pun kini mulai menjadi perhatian banyak negara.