Psikolog Bagikan Tips Mengatasi Anak Tantrum

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 15 Jul 2026, 22:04 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Tantrum merupakan ledakan emosi yang umum dialami anak ketika merasa frustrasi, sedih, atau kesulitan mengungkapkan perasaannya. Dalam kondisi ini, respons orang tua sangat menentukan seberapa cepat anak mampu kembali mengendalikan emosinya.

Psikolog klinis Rebecca Weksner menyarankan orang tua tidak langsung meminta anak diam atau tenang. Sebaliknya, gunakan kalimat yang mengakui perasaan anak agar mereka merasa dipahami.

Rebecca merekomendasikan penggunaan frasa seperti "saat ini" atau "sekarang" ketika berbicara kepada anak yang sedang tantrum. Kalimat tersebut membantu anak memahami bahwa emosi yang dirasakan hanya bersifat sementara.

Contohnya, orang tua dapat mengatakan, "Mama tahu kamu sedang sangat kesal saat ini." Menurut Rebecca, cara ini membantu anak melihat bahwa perasaan akan datang dan pergi, bukan sesuatu yang berlangsung selamanya.

Selain pilihan kata, nada suara juga memiliki pengaruh besar. Orang tua disarankan berbicara lebih pelan, lebih lambat, dan menurunkan posisi tubuh hingga sejajar dengan mata anak.

Cara tersebut memberi contoh kepada anak tentang bagaimana menenangkan diri. Saat emosi sedang memuncak, otak anak juga lebih mudah menerima pesan yang disampaikan dengan suara tenang dibandingkan bentakan.

Rebecca juga menyarankan orang tua memberikan arahan sederhana daripada sekadar meminta anak berhenti menangis. Misalnya mengajak anak minum tiga teguk air atau mengambil benda tertentu sebelum kembali berbicara.

Aktivitas sederhana itu membantu mengalihkan fokus otak dari ledakan emosi menuju proses berpikir yang lebih rasional. Setelah anak lebih tenang, mereka biasanya lebih mudah diajak berdiskusi.

Psikolog Adina Chesir mengingatkan orang tua tidak terburu buru memberikan solusi ketika anak masih berada di puncak emosinya. Langkah pertama yang lebih penting adalah memvalidasi apa yang sedang dirasakan anak.

Menurut Adina, ketika anak merasa didengar dan dipahami, mereka tidak lagi merasa perlu meluapkan emosi lebih besar untuk mendapat perhatian. Setelah emosinya mereda, orang tua baru bisa mengajak anak mencari solusi bersama.