Pupuk Kaltim Usung Kiprah Konservasi Terumbu Karang di Forum ICRS 2026

Oleh Iwan Supriyatna pada 02 Aug 2026, 21:16 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Komitmen PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menjaga keberlanjutan ekosistem laut, mendapat pengakuan internasional sebagai delegasi perwakilan Indonesia dalam ajang 16th International Coral Reef Symposium (ICRS) di Auckland, Selandia Baru, pada 19–24 Juli 2026.

Pada forum ilmiah terbesar dan paling bergengsi di bidang riset, konservasi, serta pengelolaan terumbu karang dunia itu, Pupuk Kaltim berbagi pengalaman implementasi program restorasi yang dijalankan secara konsisten selama 15 tahun di kawasan Tebok Batang, Kota Bontang.

Pupuk Kaltim menjadi satu-satunya perusahaan industri nasional yang mewakili Indonesia pada forum tersebut, sekaligus menegaskan posisi Perusahaan yang secara konsisten menjalankan program restorasi dan konservasi terumbu karang berbasis sains, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Bersama lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara yang terdiri dari ilmuwan, akademisi, praktisi konservasi hingga pembuat kebijakan, Pupuk Kaltim mengusung dua kontribusi ilmiah. Kontribusi tersebut terdiri atas presentasi oral berjudul Quindecennial Consecutively Collaborative Coral Restoration, serta poster ilmiah bertajuk Integration Coral Restoration through Long-Term Stakeholder Engagement and its Independence Governance.

"Dua karya tersebut mengangkat pendekatan komprehensif Pupuk Kaltim dalam mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, tata kelola, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat dalam restorasi terumbu karang," ujar perwakilan delegasi Pupuk Kaltim, Astri Agustina.

Dijelaskan Astri, dua karya Pupuk Kaltim merepresentasikan praktik keberlanjutan yang dikembangkan oleh sektor industri mampu memberikan kontribusi nyata, sekaligus referensi pengelolaan ekosistem pesisir berbasis sains dan kolaborasi.

Dimana Program rehabilitasi terumbu karang yang dimulai Pupuk Kaltim sejak 2011, berangkat dari kondisi kerusakan terumbu lebih dari 50 persen di kawasan perairan Bontang.

Kondisi tersebut diakibatkan oleh praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan (PITRaL), sehingga Pupuk Kaltim menginisiasi langkah rehabilitasi di kawasan Tebok Batang melalui pembangunan modul terumbu buatan dan transplantasi karang melalui pemberdayaan masyarakat pesisir, didukung monitoring ekologi dan sosial secara berkelanjutan.

"Dalam implementasinya, rehabilitasi dilakukan dengan desain tiga tipe modul terumbu buatan, yaitu Pyramid, Cube, dan Dome. Model ini sangat mendukung penempelan karang, serta peningkatan keanekaragaman hayati selama 15 tahun program di Tebok Batang," terang Astri.

Perairan Tobok Batang sebagai kawasan rehabilitasi terumbu karang Pupuk Kaltim didasarkan pada Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Tercatat hingga 2025, area yang telah dikonservasi Pupuk Kaltim seluas 2,23 Hektar (Ha) dari 10 Ha izin PKKPRL. Populasi ikan karang pun meningkat drastis mencapai 57 familia, dan populasi karang 69 genus pada 2025.

Kini kawasan Tobok Batang telah menjadi salah satu model konservasi berbasis kolaborasi yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem laut, tapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pemberdayaan kelompok nelayan secara aktif dan berkelanjutan. Mencakup pembangunan terumbu buatan, penenggelaman modul, hingga pemantauan berkala.

Dikatakan Astri, upaya ini pun menunjukkan konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, jika didukung kolaborasi seluruh pihak di dalamnya.

Langkah konservasi juga semakin diperkuat Pupuk Kaltim melalui roadmap pengembangan yang mencakup pembangunan coral nursery, konservasi padang lamun, hingga kolaborasi kerja sama internasional.

"Pengalaman Pupuk Kaltim menunjukkan keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan teknologi yang digunakan, tapi juga kesinambungan pemantauan serta adaptasi pengelolaan berdasarkan hasil evaluasi lapangan," lanjut Astri.

Lebih dari satu dekade, Pupuk Kaltim telah memasang ribuan modul terumbu buatan yang terus menunjukkan perkembangan positif terhadap pemulihan ekosistem. Program ini bagian prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diusung perusahaan yang berfokus pada peningkatan keanekaragaman hayati, rehabilitasi habitat laut, serta upaya mitigasi perubahan iklim dan dekarbonisasi.

"Melalui ICRS 2026, kami ingin menunjukkan sektor industri dapat mengambil peran strategis mendukung konservasi laut secara berkelanjutan. Apa yang kami lakukan di Tebok Batang dapat menjadi referensi maupun direplikasi oleh berbagai pihak dalam upaya yang sama," tambah Astri.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, menyampaikan keterlibatan dalam ICRS 2026 menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus menjalankan prinsip ESG, yang tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem laut, tapi juga mendorong terciptanya nilai bersama bagi masyarakat.

Hal ini juga wujud dari kontribusi Perusahaan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 14 yakni Life Below Water, sekaligus memperkuat posisi perusahaan yang mengintegrasikan keberlanjutan dalam strategi bisnis dan operasional.

"Kami sampaikan apresiasi kepada delegasi Pupuk Kaltim yang telah mewakili Indonesia pada forum ICRS. Ini menunjukkan inisiatif keberlanjutan yang lahir dari operasional perusahaan, mampu memberi kontribusi nyata dan memperoleh pengakuan dari komunitas global," ucap Anggono.

Ke depan, Pupuk Kaltim akan terus memperkuat kolaborasi bersama pemerintah, akademisi, masyarakat, serta berbagai mitra strategis lainnya, agar program konservasi yang dilaksanakan memberi manfaat lebih luas, khususnya di Kota Bontang.

"Kami percaya, masa depan ekosistem laut tidak dapat dijaga oleh satu pihak saja. Untuk itu, Pupuk Kaltim akan terus hadir bergandeng tangan memastikan sumber daya laut kita tetap lestari dan terjaga," tutup Anggono.