Risiko Pensiun Mengintai, 100 Juta Penduduk RI Terancam Tanpa Tabungan Hari Tua

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 23 Feb 2026, 22:02 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Sekitar 100 juta warga Indonesia diperkirakan berisiko tidak memiliki dana pensiun pada tahun 2038. Peringatan ini mencerminkan rendahnya kesiapan finansial masyarakat dalam menghadapi masa tua.

Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan, dan Pembiayaan Lainnya, Adi Budiarso, mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia hanya menyisihkan sekitar 3% dari pendapatan mereka untuk tabungan atau investasi.

Angka tersebut dinilai jauh dari ideal. Untuk mencapai kemandirian finansial saat tidak lagi bekerja, seseorang disarankan menabung setidaknya 10% dari penghasilan bersih.

Selisih besar antara angka ideal dan realita ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat belum memiliki perencanaan keuangan jangka panjang yang memadai.

Jika tren ini terus berlanjut, banyak orang berpotensi menghadapi masa tua tanpa perlindungan finansial. Kondisi ini dapat memicu ketergantungan terhadap keluarga atau bantuan sosial pemerintah.

Ketika lansia tidak memiliki tabungan, beban ekonomi rumah tangga berisiko meningkat. Anak dan anggota keluarga produktif bisa menjadi penopang utama kebutuhan hidup orang tua.

Selain berdampak pada keluarga, kondisi ini juga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan lansia. Tekanan terhadap program perlindungan sosial pemerintah pun diperkirakan akan semakin besar.

Rendahnya tingkat tabungan pensiun dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pendapatan yang terbatas, tingginya biaya hidup, hingga rendahnya literasi keuangan masyarakat.

Banyak pekerja juga masih mengandalkan penghasilan aktif tanpa mempersiapkan sumber pendapatan pasif untuk masa depan. Padahal, masa pensiun bisa berlangsung puluhan tahun.

Menabung minimal 10% dari pendapatan dinilai penting untuk membangun dana pensiun yang cukup, menjaga daya beli terhadap inflasi, dan mempertahankan standar hidup saat tidak lagi bekerja.

Dana pensiun yang memadai juga memberikan rasa aman finansial dan mengurangi ketergantungan pada pihak lain di masa tua.

Peringatan ini menjadi sinyal kuat bahwa peningkatan literasi keuangan dan budaya menabung harus menjadi prioritas nasional. Tanpa perubahan perilaku finansial, jutaan warga berisiko menghadapi masa pensiun yang tidak sejahtera.