Rp198,8 Triliun Dana Asing Terancam Keluar, IHSG Dibayangi Guncangan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 05 Nov 2026, 10:44 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Pasar saham Indonesia menghadapi ancaman keluarnya dana asing hingga US$11 miliar atau setara Rp198,8 triliun. Risiko tersebut muncul jika Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status bursa Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, memperkirakan dana asing sebesar US$8 miliar hingga US$11 miliar berisiko meninggalkan pasar saham domestik jika reklasifikasi tersebut benar-benar dilakukan. Dari jumlah itu, sekitar US$3 miliar merupakan dana pasif yang berpotensi keluar secara otomatis karena mengikuti indeks MSCI.

Sementara itu, sekitar US$5 miliar hingga US$8 miliar lainnya berasal dari dana aktif. Wilbert menyebut estimasi tersebut diperoleh melalui pendekatan perhitungan top-down dan bottom-up berdasarkan data pasar serta kepemilikan saham asing.

MSCI sebelumnya mengumumkan konsultasi mengenai usulan penurunan klasifikasi bursa Indonesia pada 15 Oktober 2026. Periode konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Menurut Wilbert, proses reklasifikasi berpotensi berlanjut jika Indonesia tidak mampu menunjukkan perbaikan signifikan dalam tata kelola dan fungsi pasar modal. Regulator perlu membuktikan bahwa reformasi dan penegakan hukum benar-benar memperbaiki perilaku pelaku pasar.

Jika masuk kategori Standalone Market, Indonesia akan dikeluarkan dari indeks gabungan MSCI yang selama ini menjadi acuan banyak investor global. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi akses saham Indonesia terhadap aliran investasi yang mengikuti indeks Emerging Markets.

Saat ini, lebih dari US$2 triliun dana investasi mengacu pada indeks MSCI Emerging Markets. Sebaliknya, dana yang mengikuti indeks Frontier Market hanya sekitar US$10 miliar, sehingga perpindahan kategori tidak cukup untuk mengimbangi potensi dana keluar.

Mirae Asset memperkirakan arus keluar bersih masih dapat mencapai US$7 miliar hingga US$10 miliar setelah memperhitungkan potensi tambahan dana dari kategori Frontier Market. Tambahan dana tersebut diperkirakan maksimal US$1 miliar.

Tekanan jual juga diperkirakan tidak merata pada seluruh saham. Saham-saham unggulan atau blue chips berpotensi menerima tekanan terbesar karena menanggung sekitar 82% dari total potensi arus keluar dana asing.

Empat bank besar dan saham TLKM diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 36 hingga 45 hari perdagangan untuk menyerap tekanan jual tersebut. Sementara ASII dan UNTR diperkirakan membutuhkan lebih dari 50 hari perdagangan.

Pada saham berkapitalisasi lebih kecil, waktu penyerapan tekanan jual diperkirakan lebih singkat untuk sejumlah emiten likuid. BUMI dan PTRO diperkirakan membutuhkan tiga hari, sedangkan WIFI dan RAJA sekitar empat hari perdagangan.

Selain ancaman arus keluar dana asing, Mirae Asset juga memperkirakan IHSG masih menghadapi risiko penurunan. Berdasarkan pengalaman delapan negara yang pernah mengalami penurunan klasifikasi pasar, indeks saham Indonesia berpotensi terkoreksi sekitar 18% hingga 24% dalam denominasi dolar AS.

Mirae Asset memperkirakan titik terendah pasar saham Indonesia berpotensi terjadi pada Maret hingga Mei 2027, menjelang pengumuman keputusan MSCI. Namun, proyeksi tersebut merupakan gambaran berdasarkan pengalaman historis negara lain, bukan kepastian arah pergerakan IHSG.