Sejumlah Riset Ungkap Dampak Positif Program MBG bagi Siswa dan Keluarga

Oleh Dwi Natasya pada 06 Mar 2026, 19:08 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan berbagai dampak positif dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dan keluarga penerima manfaat. Hasil kajian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia serta Research Institute of Socio-Economic Development menilai program ini tidak hanya berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Penelitian yang dirilis pada awal 2026 tersebut mengungkap bahwa program MBG membantu meringankan beban orang tua sekaligus meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan siswa. Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menyebut tingkat penerimaan masyarakat terhadap program ini tergolong tinggi, khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Menurutnya, banyak orang tua siswa memberikan penilaian positif karena program ini membantu memastikan anak tetap mendapatkan makanan bergizi selama berada di sekolah. Selain itu, MBG juga dianggap mampu mengurangi pengeluaran keluarga untuk uang jajan anak.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hampir setengah dari siswa, yakni sekitar 48,5 persen, jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan adanya program MBG, sekitar 85,8 persen siswa tercatat selalu menghabiskan makanan yang disediakan di sekolah.

Temuan serupa juga diungkap dalam riset yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development. Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menyatakan bahwa 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan mendukung kelanjutan program tersebut.

Dukungan tersebut tidak hanya didorong oleh faktor penghematan biaya, tetapi juga karena adanya rasa aman bagi orang tua bahwa anak-anak mereka memperoleh makanan bergizi secara rutin selama berada di sekolah.

Penelitian RISED juga mencatat adanya perubahan pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55 persen lainnya menyebut anak lebih mudah menerima variasi makanan.

Dampak program ini juga dirasakan langsung oleh para orang tua siswa. Salah satunya disampaikan oleh Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Ia mengaku program MBG membuat anaknya yang duduk di kelas VI SD menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam belajar.

Menurutnya, anaknya kini lebih mandiri dalam belajar, termasuk dalam pelajaran matematika, serta mengalami peningkatan nilai rapor dengan rata-rata mencapai delapan. Selain itu, kondisi fisik anaknya juga terlihat lebih segar dan berenergi.

Meski demikian, para peneliti menilai pelaksanaan program berskala besar seperti MBG tetap memerlukan proses penyesuaian di lapangan. Beberapa tantangan dalam implementasinya masih perlu dibenahi agar program dapat berjalan lebih efektif.

Hari Nugroho merekomendasikan agar pelaksanaan program dilakukan dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan melibatkan berbagai pihak sejak tahap perencanaan. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan dinas kesehatan dalam melakukan pengawasan standar mutu dapur secara berkala.

Secara umum, program MBG dinilai telah memberikan dasar yang kuat dalam mendukung peningkatan kesehatan dan kualitas pendidikan anak-anak. Dengan penyempurnaan berkelanjutan serta kerja sama lintas sektor, program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun generasi Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.