JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah Singapura menyiapkan lebih dari 300 pusat pendingin di berbagai wilayah sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi gelombang panas.
Fasilitas tersebut disediakan untuk melindungi masyarakat dari suhu ekstrem yang diperkirakan semakin sering terjadi.
Pusat pendingin akan ditempatkan di sejumlah pusat komunitas, pusat Residents' Committee (RC) atau Residents' Network (RN), serta beberapa gedung olahraga dalam ruangan.
Fasilitas tersebut dilengkapi pendingin udara dan tempat duduk bagi masyarakat.
Lokasi lengkap pusat pendingin akan diumumkan ketika rencana penanganan gelombang panas mulai diaktifkan.
Masyarakat juga akan memperoleh peringatan setidaknya empat hari sebelumnya melalui aplikasi cuaca nasional myENV.
Direktur Divisi Kebijakan Energi dan Iklim Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Calvin Chong, mengatakan kelompok rentan akan menjadi prioritas apabila kapasitas pusat pendingin hampir penuh.
"Jika sebuah pusat hampir penuh, prioritas akan diberikan kepada kelompok rentan, seperti warga lanjut usia," ungkap Chong, dikutip dari The Straits Times, Rabu (2/9/2026).
Singapura Hadapi Pukulan Ganda
Menurut Chong, Singapura saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai double whammy atau pukulan ganda cuaca panas.
Kondisi tersebut terjadi karena musim monsun barat daya yang kering berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang membawa cuaca lebih panas dan kering.
Data National Environment Agency (NEA) mencatat terdapat 17 hari dengan tekanan panas tinggi sepanjang 2026.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan lima hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Singapura menetapkan kondisi gelombang panas ketika suhu maksimum harian rata-rata mencapai 35 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut, dengan suhu rata-rata harian setidaknya 29 derajat Celsius.
NEA juga memperingatkan suhu ekstrem masih berpotensi terjadi ketika El Nino mulai melemah, yang diperkirakan berlangsung pada Maret hingga Mei 2027.
Periode tersebut bertepatan dengan salah satu masa terpanas di Singapura.
"Hal itu sedang kami pelajari dengan sangat dekat, dan kami siap mengaktifkan rencana respons gelombang panas jika mencapai tingkat tersebut," lanjut Chong.
Singapura terakhir mengalami gelombang panas pada April 2016, ketika episode El Nino kuat berakhir.
Pada awal 2025, Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan (MSE) memperkenalkan rencana nasional pertama untuk menghadapi gelombang panas.
Ketika kondisi tersebut terjadi, sekolah dapat menerapkan pembelajaran dari rumah.
Sementara itu, prasekolah dan panti jompo diminta menghentikan aktivitas luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 16.00 waktu setempat.
Panas Mulai Berdampak ke Produktivitas
Untuk memperkuat penanganan, MSE membentuk Heat Resilience Policy Office yang dipimpin Chong.
Ia mengatakan panas kini tidak lagi hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga mulai berdampak terhadap produktivitas pekerja dan berbagai sektor lainnya.
Kantor tersebut nantinya melibatkan jaringan komunitas untuk memantau kelompok rentan serta mengarahkan mereka menuju pusat pendingin terdekat.
"Ada batasan seberapa banyak siaran umum dan peringatan melalui myENV yang bisa kami lakukan. Mungkin sebagian ketimpangan dalam penanganan akan muncul di tingkat lokal," ungkap Chong.
Dalam jangka panjang, Pemerintah Singapura akan menyusun strategi ketahanan panas yang mencakup aspek infrastruktur, kesehatan, ekonomi, dan sosial.
Pemerintah juga menyiapkan pendanaan Adapting to Heat Impacts senilai 40 juta dolar Singapura untuk mendukung penelitian yang dijadwalkan dibuka pada akhir 2026.
"Kami dapat membangun pengetahuan mengenai cara memahami panas dari konteks Singapura dan menghasilkan langkah-langkah intervensi yang berarti. Hal itu juga akan bermanfaat bagi kawasan sekitar," pungkasnya.