Siswa SMK Yatim di Samarinda Meninggal Dunia, Diduga Gara-Gara Sepatu Kekecilan yang Tak Bisa Diganti

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 05 May 2026, 17:13 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Seorang pelajar SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra, 16 tahun, meninggal dunia pada Jumat, 24 April 2026.

Kepergiannya menyisakan duka mendalam sekaligus menyoroti sisi kelam kemiskinan yang masih nyata di tengah masyarakat.

Mandala adalah anak yatim. Ia tinggal bersama ibunya, Ratnasari, satu kakak, dan tiga adiknya. Sang ibu menghidupi keluarga dengan berjualan risoles keliling.

Masalah bermula dari sepatu sekolah. Sejak kelas 1 SMK, Mandala memakai ukuran 43. Saat naik kelas 2, kakinya tumbuh ke ukuran 45, tapi keluarga tidak punya uang untuk membeli yang baru.

Sepatu lama tetap dipakai setiap hari. Diganjal busa agar terasa sedikit lebih longgar, tapi justru memperparah tekanan pada kaki.

Kondisi makin parah saat Mandala menjalani magang di pusat perbelanjaan. Hampir setiap hari ia berdiri dalam waktu lama. Dalam sekitar sebulan, kaki mulai bengkak dan rasa sakit menjalar hingga ke pinggang dan kepala.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menyebut sepatu Mandala sudah sangat tidak layak dipakai. LSM itu menerima laporan pada 25 April 2026 dan langsung mendatangi rumah duka.

Ratnasari menuturkan, awalnya keluhan anaknya tampak biasa. Baru setelah sekitar 20 hari, pembengkakan mulai terlihat jelas di bagian atas kaki.

Meski kesakitan, Mandala tetap berangkat magang. Keluhannya baru disampaikan setelah pulang ke rumah.

Sehari sebelum meninggal, kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Ia sempat dibawa ke klinik dan mendapat suntikan. Setelah itu, ia bilang sakitnya sudah berkurang dan keluarga sempat lega.

Malam sebelum pergi, Mandala menyampaikan satu permintaan kepada ibunya. Ia ingin punya sepatu baru. Ratnasari tidak bisa memenuhinya.

Keesokan harinya, Mandala meninggal dunia. Proses pemakaman dibantu pihak sekolah karena keluarga tidak mampu menanggung biayanya.

TRC PPA Kaltim menegaskan kasus ini bukan sekadar tragedi pribadi. Ini cerminan kerentanan sosial yang serius, soal akses kebutuhan dasar dan layanan kesehatan bagi keluarga tidak mampu.