Siswa Tojo Una-Una Cerita Perubahan Setelah Dapat MBG

Oleh Rizki Meirino pada 23 Aug 2026, 12:42 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan perubahan dalam keseharian siswa sekolah dasar di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Bagi para siswa, manfaat MBG tidak hanya berupa makanan yang diterima di sekolah, tetapi juga membantu mereka lebih berenergi, siap mengikuti pelajaran, serta memahami pentingnya kandungan gizi dalam makanan.

Hal tersebut dirasakan tiga siswa, yakni Gayatri Kalyani Taha dari SDN 1 Ratolindo, Andi Arkan Raffi dari SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una, dan Muhammad Rizat Wikaldi dari SDN 1 Ampana Kota.

Gayatri mengatakan keberadaan MBG membuat orang tuanya tidak lagi khawatir ketika ia berangkat sekolah tanpa membawa bekal atau uang jajan.

“Orang tua saya sudah tidak perlu khawatir lagi kalau kami kelaparan di sekolah karena sudah ada program Makan Bergizi Gratis yang diberikan kepada kami,” ujarnya.

Sementara itu, Raffi mengaku sejak menerima MBG dirinya semakin jarang membawa uang jajan. Ia juga mulai memahami kandungan gizi dalam makanan, seperti nasi sebagai sumber karbohidrat, daging sebagai protein, sayur sebagai sumber vitamin, dan buah sebagai sumber serat.

“Dulu saya berpikir makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekarang saya sudah paham bahwa makanan itu banyak manfaat gizinya. Saya mulai terbiasa menyantap sayur dan buah yang sebelumnya kurang suka,” kata Raffi.

Rizat menilai MBG turut membantu kesiapan siswa mengikuti pembelajaran. Ia mengatakan sebelumnya masih melihat sejumlah teman kurang fokus karena belum sarapan.

“Setelah kami mendapatkan program ini, saya melihat teman-teman menjadi lebih berenergi dan lebih fokus,” tutur Rizat.

Meski demikian, Rizat menilai asupan gizi bukan satu-satunya faktor yang menentukan prestasi siswa karena tetap diperlukan kemauan belajar dan dukungan orang tua.

Selain manfaat, ketiga siswa juga memberikan masukan terkait pelaksanaan MBG. Mereka berharap menu yang disediakan lebih bervariasi dan disesuaikan dengan selera siswa tanpa mengurangi kandungan gizi.

Rizat juga menyoroti pentingnya ketepatan waktu distribusi agar makanan tetap hangat dan segar saat dikonsumsi. Menurutnya, siswa juga perlu mendapatkan edukasi sederhana mengenai kandungan makanan yang mereka santap.

Persoalan sisa makanan turut menjadi perhatian. Gayatri mengaku sedih ketika melihat makanan dibuang karena terdapat tenaga petugas dapur di balik setiap porsi makanan yang diberikan.

Raffi juga masih menemukan teman-temannya tidak menghabiskan makanan karena persoalan selera. Karena itu, mereka menilai variasi menu perlu diiringi pembiasaan untuk menghargai makanan dan mengurangi pemborosan.

Bagi sebagian keluarga, manfaat MBG bahkan dirasakan hingga di luar sekolah. Rizat menceritakan adanya siswa yang menyisakan sebagian makanan untuk dibawa pulang dan disantap kembali di rumah.

Ketiganya berharap program MBG terus dilanjutkan dengan perbaikan berkelanjutan. Mereka juga mendorong pembangunan dapur pelayanan di wilayah terpencil agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

“Saya ingin MBG ini berkembang lebih baik setiap harinya, menunya lebih bervariasi, dan pemerintah mau menerima masukan. Bangun juga dapur-dapur di daerah terpencil agar anak-anak di sana dapat merasakan manfaat Makan Bergizi Gratis,” tutup Rizat.