JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah kembali memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan. Sebanyak lima pesawat TNI AU dikerahkan menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Jumat (21/8).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan lima pesawat tersebut berangkat dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Armada itu akan memperkuat 30 pesawat BNPB yang telah beroperasi di tiga provinsi terdampak di Kalimantan.
"Jumat siang ini, 5 pesawat TNI AU kembali diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat 30 armada BNPB," kata Teddy dalam unggahan Sekretariat Kabinet, Jumat (21/8).
Menurut Teddy, penambahan armada dilakukan untuk memperkuat penanganan karhutla sekaligus melindungi keselamatan masyarakat. Pemerintah juga berupaya menjaga kelestarian lingkungan di wilayah terdampak.
TNI AU tetap menyiagakan sejumlah pesawat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat tersebut dapat dikerahkan apabila BNPB membutuhkan tambahan dukungan dalam penanganan karhutla.
Berdasarkan laporan BNPB yang disampaikan Teddy, total terdapat 52 pesawat yang telah dikerahkan dalam operasi penanganan wilayah rawan karhutla. Sebanyak 30 pesawat beroperasi di Kalimantan, sementara 22 lainnya berada di wilayah Sumatra.
Karhutla saat ini melanda sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra. Kementerian Lingkungan Hidup juga telah menerbitkan instruksi mendesak kepada enam gubernur untuk memperketat penanganan kebakaran dan penurunan kualitas udara.
Enam wilayah tersebut meliputi Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan. Instruksi tersebut menekankan perlindungan keselamatan masyarakat di tengah meningkatnya ancaman karhutla.
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat konsentrasi PM2,5 di sejumlah daerah sudah cukup tinggi. Kampar tercatat 48,84 mikrogram per meter kubik, Ogan Ilir 47,39 mikrogram, Katingan 30,16 mikrogram, Kota Jambi 26,18 mikrogram, Pontianak 26,41 mikrogram, dan Banjarmasin 17,40 mikrogram per meter kubik.
Pemerintah menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat berdampak terhadap kualitas udara dan keselamatan masyarakat. Penanganan karhutla pun diperkuat melalui pengerahan armada udara di sejumlah wilayah rawan.
Fenomena El Nino kuat yang melanda Indonesia sejak Juli 2026 turut disebut menjadi pemicu meningkatnya kerawanan karhutla. Kondisi tersebut beriringan dengan penurunan kualitas udara di beberapa daerah yang terdampak.