Ia menyebut dugaan gangguan sistem persinyalan masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Insiden terjadi pada Senin (27/4/2026) malam sekitar pukul 20.57 WIB dan berdampak besar pada operasional jalur commuter line Bekasi.
KRL rute Cikarang saat itu tengah berhenti di stasiun setelah sebelumnya tertahan akibat insiden taksi listrik yang tertemper di perlintasan dekat lokasi.
Posisi KRL yang tidak bergerak membuat rangkaian berada dalam kondisi rentan sebelum akhirnya dihantam KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang.
Benturan keras menyebabkan satu gerbong, termasuk gerbong khusus wanita, mengalami kerusakan parah hingga robek.
Basarnas melaporkan proses evakuasi korban telah selesai dilakukan pada Selasa pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Total korban tewas tercatat 14 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan berbeda.
Seluruh korban yang dievakuasi disebut merupakan perempuan berdasarkan data di lokasi kejadian.
Menhub menegaskan pemerintah tidak ingin berspekulasi sebelum hasil investigasi KNKT keluar secara resmi.
Fokus saat ini diarahkan pada penanganan korban serta pemulihan operasional perkeretaapian di wilayah terdampak.
KNKT diharapkan dapat mengungkap secara detail apakah terdapat gangguan teknis atau faktor lain dalam peristiwa tersebut.