Trump Bentuk Pasukan AI Hadapi China

Oleh Desti Dwi Natasya pada 21 Sep 2026, 14:14 WIB

Donald Trump

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pembentukan “Pasukan AI” dan penunjukan koordinator khusus untuk kecerdasan buatan (AI).

Langkah tersebut disampaikan Trump ketika pemerintahannya berupaya mempertahankan posisi Amerika Serikat dalam persaingan pengembangan AI dengan China. Rencana itu juga muncul di tengah perdebatan mengenai risiko pengembangan teknologi AI yang semakin cepat.

“Kami tidak akan menghalangi atau menghambat pertumbuhan industri yang luar biasa ini dengan cara apa pun,” tulis Trump, dikutip dari berbagai sumber, Senin (21/9/2026).

Trump menyatakan pemerintah AS justru akan mendukung perkembangan industri AI sekaligus melakukan pengawasan terhadap pertumbuhannya.

“Sebaliknya, kami akan menghargainya, membantunya, dan mengawasinya seiring pertumbuhannya!," timpalnya.

Trump mengatakan pembentukan Pasukan AI tersebut akan mengikuti konsep United States Space Force yang dibentuk pada 2019 sebagai cabang keenam militer AS.

“Untuk tujuan ini, saya membentuk Pasukan AI, sama seperti yang saya lakukan pada Pasukan Luar Angkasa, yang telah SUKSES besar, pada masa jabatan pertama saya,” tulis Trump.

Trump juga menyebut akan segera mengumumkan sosok yang ditunjuk sebagai koordinator AI, dengan mengatakan “hanya individu dengan IQ tinggi yang perlu melamar!”

Meski demikian, hingga pengumuman tersebut disampaikan, belum ada rincian mengenai komposisi, kewenangan, anggaran, maupun posisi Pasukan AI dalam struktur pemerintahan federal.

Trump menilai AI dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan Revolusi Industri dan internet, bahkan memperkirakan teknologi tersebut berpotensi menyumbang hingga 25 persen terhadap PDB AS.

“Kita memimpin China, dan seluruh dunia, dan saya bermaksud untuk mempertahankannya!” tulis Trump.

Kebijakan tersebut disampaikan ketika sejumlah tokoh industri AI memperingatkan risiko perkembangan teknologi yang terlalu cepat.

CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, CEO xAI Elon Musk, dan salah satu pendiri Google DeepMind Demis Hassabis sebelumnya mendukung seruan agar pengembangan sistem AI semakin canggih dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan. Reuters juga melaporkan adanya kekhawatiran industri mengenai kemampuan AI yang berkembang semakin cepat dan potensi sistem tersebut beroperasi di luar kendali manusia.

Sementara itu, Kepala Anthropic Alignment Science Evan Hubinger menyatakan dirinya memperkirakan kemungkinan lebih dari 10 persen bahwa AI dapat “membunuh semua manusia” dalam dekade mendatang. Pernyataan tersebut merupakan penilaian pribadi Hubinger, bukan prediksi yang telah terbukti.

Trump menepis kekhawatiran tersebut dan menyebut risiko AI mengambil alih dunia sebagai “hoax”.

Perdebatan mengenai penggunaan AI juga kembali mencuat setelah laporan Bloomberg mengenai serangan terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, pada 28 Februari 2026.

Menurut laporan Bloomberg yang mengutip pejabat yang mengetahui penyelidikan Pentagon, intelijen yang keliru, citra lama, serta ketergantungan berlebihan terhadap teknologi AI disebut berkontribusi dalam proses penentuan target serangan yang menewaskan lebih dari 150 orang, termasuk sedikitnya 123 anak.