Usai Bongkar Dugaan Korupsi Pelindo Rp4,08 Triliun, Pensiunan JICT Ermanto Usman Ditemukan Tewas di Rumahnya

Oleh Hidayat Taufik pada 07 Mar 2026, 22:52 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Ermanto Usman (65), pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT), ditemukan meninggal dunia di kediamannya di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/3/2026).

Korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di dalam kamar rumahnya. Sementara sang istri yang berada di lokasi yang sama mengalami luka berat dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Diketahui Anak Menjelang Waktu SahurPeristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh anak korban menjelang waktu sahur. Ia mulai merasa curiga karena hingga mendekati waktu imsak kedua orang tuanya tidak membangunkannya seperti biasanya.

Sekitar pukul 04.00 WIB, anak korban kemudian turun dari lantai atas untuk memeriksa kondisi rumah. Saat hendak membuka pintu kamar orang tuanya, ia mendapati gagang pintu dalam keadaan rusak.

Setelah pintu berhasil dibuka, ia menemukan ayahnya sudah tidak bernyawa dengan sejumlah luka dan darah di sekitar tubuhnya. Sementara ibunya ditemukan dalam kondisi terluka parah.

Dalam penyelidikan awal, polisi juga mencatat adanya beberapa barang milik korban yang hilang, di antaranya gelang emas yang dikenakan korban serta dua kunci mobil.

Aktif Menyoroti Isu Pengelolaan PelabuhanSemasa hidupnya, Ermanto dikenal sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan JICT. Ia juga cukup vokal dalam menyampaikan kritik dan pandangan terkait persoalan pengelolaan pelabuhan.

Beberapa waktu sebelum meninggal dunia, ia sempat membahas dugaan permasalahan kerja sama pengelolaan terminal pelabuhan antara Pelindo dan Hutchison Port Holdings yang berbasis di Hong Kong dalam sebuah podcast pada Desember 2025.

Dalam pembahasan tersebut disebutkan bahwa audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan indikasi potensi kerugian negara sekitar US$360 juta atau setara Rp4,08 triliun yang berkaitan dengan kontrak baru antara PT Pelindo II dan perusahaan tersebut.

Ermanto juga diketahui pernah mendorong pemerintah untuk melakukan pembenahan di tubuh Pelindo, termasuk melalui audit investigasi menyeluruh serta penelusuran dugaan tindak pidana korupsi.

Keluarga Curigai Ada Unsur PerencanaanPihak keluarga menilai kematian Ermanto tidak semata-mata disebabkan oleh tindak perampokan biasa.

Putra korban, Fiandy A Putra, menyebut ayahnya selama ini dikenal berani menyuarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan dunia kepelabuhanan. Menurutnya, keluarga juga memahami adanya risiko dari sikap tersebut.

DPR Dorong Penyelidikan MendalamAnggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, turut memberikan perhatian terhadap kasus ini. Ia meminta aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan peristiwa tersebut berkaitan dengan upaya membungkam seseorang yang menyuarakan dugaan korupsi di sektor pelabuhan.

Ia pun mendesak kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut kasus ini hingga tuntas, termasuk menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat di balik kejadian tersebut.

Saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan guna mengungkap pelaku, motif, serta kemungkinan adanya aktor lain di balik peristiwa yang menewaskan Ermanto Usman tersebut.