JAKARTA, Cobisnis.com — Serangan jantung tidak hanya mengintai orang lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang baru memasuki usia 20-an. Sejumlah faktor dapat memicu kondisi ini, di antaranya gaya hidup tidak sehat, riwayat keluarga, dan peradangan dalam tubuh.
Spesialis jantung Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Muhammad Barri Fahmi, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, menjelaskan bahwa umur seseorang tidak selalu sejalan dengan kondisi kesehatan pembuluh darahnya. Karena itu, seseorang yang masih muda belum tentu memiliki pembuluh darah yang sehat.
Ia menerangkan bahwa terdapat perbedaan antara usia biologis, yakni umur berdasarkan waktu sejak seseorang lahir, dan usia vaskular yang mencerminkan kondisi pembuluh darah.
Kondisi ini dapat dipengaruhi kebiasaan sehari-hari. Sebagai contoh, pesepak bola Cristiano Ronaldo tetap menjaga kebugaran pada usia 40 tahun berkat kedisiplinan dalam menjalani pola hidup sehat. Sebaliknya, orang seusianya yang kurang beraktivitas fisik dan sering mengonsumsi makanan berminyak dapat menghadapi risiko kesehatan berbeda.
"Dibandingkan dengan mungkin teman-teman seangkatannya Cristiano Ronaldo yang gaya hidupnya kurang sehat, mungkin makanannya gorengan atau deep fried foods," kata dr. Barri dalam konferensi pers penyelenggaraan forum "Strategic PCI Meeting 2026" di Mayapada Hospital, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (14/10/2026).
Menurut Barri, kebiasaan merokok, menggunakan rokok elektronik, jarang berolahraga, serta mengonsumsi makanan kurang sehat dapat mempercepat penurunan kondisi pembuluh darah.
"Terus kemudian dia tidak exercise, dia kemudian smoker ataupun electronic cigarettes, itu biological age-nya tidak akan sama dengan vascular age-nya," lanjutnya.
Ketika pembuluh darah mengalami penuaan lebih cepat, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat meskipun usia seseorang masih tergolong muda. Kerusakan pembuluh darah juga berkaitan dengan munculnya tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.
"Jadi istilahnya mungkin usianya 40 tahun, yang gaya hidupnya kurang sehat, tapi usia 'jeroannya' mungkin sudah 50 tahun, 60 tahun," tutur dr. Barri.
"Makanya itu menjawab kenapa orang ada yang masih muda tetapi terkena serangan jantung, karena vascular age-nya sudah tua," papar dr. Barri.
Riwayat keluarga turut meningkatkan risiko
Selain kebiasaan hidup, faktor keturunan juga menjadi hal penting dalam menilai risiko serangan jantung pada usia muda. Spesialis jantung Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Ika K. Dhanudibroto, Sp.JP, Subsp. KI(K), FIHA, menyebut riwayat penyakit jantung dalam keluarga dapat meningkatkan kerentanan seseorang.
"Banyak pasien-pasien dengan serangan jantung usia muda memiliki family risk factor yang tinggi. (Dari) Ayah, ibu, (anak berisiko mengalami) serangan jantung usia muda di bawah 50 tahun," ungkap dr. Ika.
Faktor genetik membuat sebagian orang memiliki risiko lebih tinggi meskipun telah menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan menghindari rokok. Oleh sebab itu, kebiasaan hidup sehat tetap perlu disertai pemahaman mengenai riwayat kesehatan keluarga.
"Jadi kadangkala mungkin hidupnya udah sehat, olahraganya betul, merokok enggak, lalu kemudian makanannya sudah cukup terjaga, tetapi kok masih kena serangan jantung? Nah, genetik, itu juga berperan," terang dr. Ika.
Pemeriksaan laboratorium tertentu dapat membantu dokter mengidentifikasi risiko genetik pada kondisi yang sesuai. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun langkah pencegahan berdasarkan profil kesehatan masing-masing orang.
Peradangan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan
Faktor gaya hidup dan genetik juga berkaitan dengan peradangan atau inflamasi yang dapat memengaruhi pembuluh darah. Pola makan yang didominasi makanan olahan perlu diwaspadai sebagai bagian dari kebiasaan yang kurang mendukung kesehatan jantung.
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengukur penanda peradangan adalah High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP). Tes ini membantu dokter menilai tingkat peradangan yang dapat berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular.
Barri menjelaskan, kadar kolesterol yang rendah tidak selalu berarti risiko penyakit jantung sepenuhnya terkendali. Penanda peradangan yang tinggi tetap perlu diperhatikan dalam penilaian kesehatan pasien.
"Banyak pasien yang kadar kolesterolnya sudah rendah, terutama LDL, ketika diperiksa kadar hs-CRP-nya, kalau LDL-nya rendah, kolesterolnya bagus, tapi hs-CRP-nya tinggi, inflamasinya tinggi, itu tetap akan meningkatkan risiko sakit jantung," kata dr. Barri.
Hasil pemeriksaan perlu dinilai bersama faktor risiko lainnya agar dokter dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai. Pemeriksaan dan konsultasi medis juga membantu seseorang memahami kondisi kesehatannya secara lebih menyeluruh.
Selain itu, masyarakat dapat mulai memperbaiki pola makan dengan memperbanyak konsumsi makanan utuh atau real food serta membatasi makanan yang diproses secara berlebihan.
"Semakin tinggi kadar inflamasi seseorang, kita harus makin berusaha untuk menurunkan inflamasi tersebut," pungkas dr. Barri.