Viral Usai Dikaitkan dengan Bakom RI, Apa Sebenarnya Homeless Media?

Oleh Hidayat Taufik pada 07 May 2026, 16:35 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Istilah homeless media kembali ramai dibahas publik setelah Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyebut sejumlah media digital sebagai mitra strategis pemerintah.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (6/5/2026), Qodari menjelaskan bahwa kelompok media digital yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum sebelumnya dikenal sebagai homeless media. Namun, komunitas tersebut kini mulai bertransformasi menjadi new media dengan konsep yang lebih terstruktur.

Selain itu, Qodari menilai kerja sama dengan media digital penting untuk memperluas komunikasi pemerintah kepada masyarakat. Terutama, pemerintah ingin menjangkau generasi muda yang aktif menggunakan media sosial.

Beberapa platform yang disebut antara lain Folkative, Indozone, Dagelan, Narasi, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Kok Bisa?, hingga CXO Media.

Menurut Qodari, pemerintah perlu membangun hubungan yang lebih dekat dengan para pelaku media digital. Karena itu, pendekatan kolaboratif dianggap lebih efektif dibanding menjaga jarak.

Ia juga berharap kerja sama tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas konten media digital di Indonesia.

Apa Itu Homeless Media?

Istilah homeless media pertama kali diperkenalkan oleh Eddward Samadyo Kennedy pada 2017. Istilah ini merujuk pada media yang beroperasi tanpa situs web resmi dan mengandalkan media sosial sebagai saluran utama distribusi konten.

Mengacu pada laporan ANTARA pada Februari 2026, homeless media menggambarkan praktik produksi informasi yang bertumpu penuh pada platform media sosial. Sementara itu, media jenis ini biasanya tidak memiliki struktur perusahaan pers konvensional yang kuat.

Peneliti dari Remotivi, Geger Riyanto, menjelaskan bahwa fenomena homeless media tumbuh karena beberapa faktor. Misalnya, kecepatan distribusi informasi, kedekatan dengan audiens, dan tingginya partisipasi pengguna media sosial.

Selain itu, proses produksi konten yang lebih fleksibel membuat media jenis ini dapat mempublikasikan informasi lebih cepat. Karena itu, banyak audiens muda memilih mengikuti akun media sosial dibanding media konvensional.