Wajar Jika Sawit Jadi Anak Emas Presiden Prabowo, Ketum GAPKI: Penyelamat Ekonomi saat Krisis

Oleh Iwan Supriyatna pada 12 Mar 2026, 23:08 WIB

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono.

JAKARTA, Cobisnis.com - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menegaskan bahwa industri kelapa sawit masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, terutama ketika terjadi krisis ekonomi.

Menurut Eddy, komoditas sawit terbukti memiliki daya tahan yang kuat dalam berbagai tekanan ekonomi. Tidak heran jika Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius ke industri sawit dan turunannya.

“Sawit sering menjadi penyelamat saat terjadi krisis. Komoditas ini juga terbukti tahan terhadap krisis ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Data GAPKI menunjukkan, produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) pada tahun 2025 mencapai 51.660 ribu ton atau meningkat 7,26 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 48.164 ribu ton.

Produksi minyak inti sawit (PKO) juga meningkat 6,41 persen menjadi 4.893 ribu ton dari 4.598 ribu ton pada tahun sebelumnya.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada 2025 mencapai 56.553 ribu ton, naik 7,18 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 52.762 ribu ton.

Sementara itu, total konsumsi dalam negeri pada 2025 meningkat 3,82 persen dari 23.859 ribu ton pada 2024 menjadi 24.772 ribu ton.

Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang mencapai 12.704 ribu ton atau naik 10,97 persen dari tahun sebelumnya sebesar 11.447 ribu ton. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan bauran biodiesel dari 35 persen menjadi 40 persen.

Konsumsi oleokimia juga naik tipis dari 2.207 ribu ton menjadi 2.234 ribu ton atau meningkat 1,22 persen. Namun, konsumsi untuk sektor pangan mengalami penurunan menjadi 9.834 ribu ton dari 10.205 ribu ton pada tahun 2024 atau turun 3,64 persen.

Di sisi perdagangan luar negeri, total ekspor produk sawit pada 2025 mencapai 32.343 ribu ton atau meningkat 9,51 persen dibandingkan ekspor tahun 2024 sebesar 29.535 ribu ton. Peningkatan ekspor terbesar berasal dari minyak sawit olahan yang naik menjadi 22.727 ribu ton dari 20.451 ribu ton.

Selain itu, ekspor olahan minyak inti sawit meningkat menjadi 1.560 ribu ton dari 1.262 ribu ton, ekspor oleokimia naik menjadi 5.076 ribu ton dari 4.796 ribu ton, serta ekspor CPO meningkat menjadi 2.964 ribu ton dari 2.916 ribu ton.

Berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor pada 2025 antara lain terjadi ke kawasan Afrika sebesar 4.991 ribu ton, China 644 ribu ton, Malaysia 516 ribu ton, Bangladesh 503 ribu ton, dan Pakistan 214 ribu ton.

Sementara penurunan ekspor terjadi ke India sebesar 859 ribu ton, Uni Eropa (EU-27) sebesar 97 ribu ton, dan Amerika Serikat sebesar 15 ribu ton.

Dari sisi nilai, ekspor sawit pada 2025 mencapai US$ 35,87 miliar atau sekitar Rp 590 triliun. Nilai ini meningkat 29,23 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$ 27,76 miliar atau sekitar Rp 440 triliun.

Peningkatan nilai ekspor tersebut tidak hanya didorong oleh kenaikan volume ekspor, tetapi juga oleh naiknya harga rata-rata CIF Rotterdam pada 2025 yang mencapai US$ 1.221 per ton, lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$ 1.084 per ton.

Dengan perkembangan produksi, konsumsi, dan ekspor tersebut, stok akhir CPO dan PKO pada 2025 tercatat sebesar 2.068 ribu ton. Angka ini lebih rendah 19,79 persen dibandingkan stok akhir tahun 2024 yang mencapai 2.577 ribu ton.