3 Tahun Perang: Sistem Kesehatan di Gaza Hancur Akibat Serangan Genosida Israel

Oleh Chodijah Febriani pada 08 Oct 2026, 15:57 WIB

Keadaan Gaza, Palestina

JAKARTA, Cobisnis.com - Sudah tiga tahun lamanya perang Israel telah menghancurkan sistem kesehatan di Jalur Gaza, menewaskan lebih dari 1.700 tenaga kesehatan dan membuat sebagian besar rumah sakit tidak lagi berfungsi penuh di tengah kebutuhan medis lebih dari dua juta penduduk.

Serangan militer Israel telah menghancurkan fasilitas kesehatan serta membuat tim medis kekurangan peralatan dan pasokan yang diperlukan untuk merawat pasien.

Dikutip dari anadolu, Kamis (8/10/2026), menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, lebih dari 1.700 tenaga kesehatan tewas dalam sedikitnya 920 serangan terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan selama tiga tahun terakhir.

Serangan tersebut juga berdampak terhadap 386 ambulans. Pembaruan situasi terbaru WHO menyebutkan layanan kesehatan di seluruh Gaza hanya memiliki 2.253 tempat tidur rawat inap, 104 tempat tidur unit perawatan intensif (ICU), 343 tempat tidur persalinan, 384 tempat tidur ruang gawat darurat dan 126 inkubator untuk melayani populasi lebih dari dua juta orang.

Sebelum perang dimulai pada Oktober 2023, Jalur Gaza memiliki 36 rumah sakit yang beroperasi dalam sistem kesehatannya. Namun kini, sistem kesehatan Gaza di ambang kehancuran.

Menurut penilaian terbaru WHO, saat ini hanya 19 rumah sakit yang masih berfungsi sebagian. Layanan kesehatan primer juga terdampak parah. Dari 233 fasilitas layanan kesehatan primer, hanya 146 yang masih berfungsi sehingga sebagian besar penduduk memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan rutin maupun khusus.

Selain itu, kelangkaan obat dan peralatan dan pembatasan Israel terhadap barang-barang yang dikategorikan sebagai penggunaan ganda yang menyebabkan pasokan obat-obatan penting, termasuk insulin, peralatan diagnostik dan bahan bakar berada pada tingkat yang sangat terbatas.

Pasien kanker tidak dapat memperoleh pengobatan secara konsisten, pasien penyakit ginjal menghadapi kesulitan mendapatkan dialisis secara rutin, sementara ibu dan bayi baru lahir menghadapi risiko yang semakin besar.

Ribuan orang juga mengalami amputasi, yang dalam banyak kasus dilakukan tanpa anestesi, serta cedera lain yang mengubah kehidupan mereka, sementara layanan rehabilitasi masih sangat terbatas.

Kemampuan diagnostik juga terbatas akibat kekurangan peralatan, bahan medis habis pakai, bahan bakar generator dan suku cadang.

Secara keseluruhan, perkiraan menunjukkan sedikitnya 2.000 orang di Gaza didiagnosis menderita kanker setiap tahun, 45.000 pasien hidup dengan penyakit kardiovaskular dan lebih dari satu juta orang mengalami gangguan mental.

Sementara itu, lebih dari 500.000 perempuan usia reproduktif tidak memiliki akses terhadap layanan penting, termasuk perawatan sebelum dan setelah melahirkan, keluarga berencana serta penanganan infeksi menular seksual.

Pengungsian dan sanitasi buruk tingkatkan risiko kesehatan. Sehingga membuat runtuhnya sistem kesehatan diperparah dengan memburuknya kondisi air, sanitasi, tempat tinggal dan kehidupan masyarakat.

Menurut perkiraan WHO, sekitar 1,7 juta orang masih mengungsi dan banyak di antaranya tinggal dalam kondisi padat dengan tempat berlindung, air dan sanitasi yang tidak memadai.

Otoritas kesehatan dan organisasi kemanusiaan terus melaporkan kasus infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit dan diare akut, sementara pencemaran air serta buruknya sanitasi meningkatkan risiko munculnya wabah penyakit lebih lanjut.

Bagi pasien yang tidak dapat memperoleh pengobatan di Gaza, evakuasi medis tetap menjadi jalur penting untuk mendapatkan perawatan.

Dalam laporan pada September, WHO mengatakan lebih dari 13.760 pasien telah dievakuasi secara medis dari Gaza sejak Oktober 2023, namun puluhan ribu lainnya masih membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Reinhilde Van de Weerdt, mengatakan dalam pengarahan media pada April bahwa pembangunan kembali sistem kesehatan Gaza diperkirakan membutuhkan dana sekitar $10 miliar dalam lima tahun ke depan.